Puisi Sang Ibu

Adalah salahmu
Jika aku tetiba membisu
Menangkapi setiap kilau jejakmu
Yang membekas
Di sela-sela garis batas

Mungkin kini, akulah segalamu
Akulah tempatmu mencari
Akulah tempatmu kembali dan mulai pergi
Tapi waktu akan membunuh itu

Adalah benar
Tentang semua celoteh itu
Yang pasti akan kurindu
Di dua tiga hari setelah sewindu

Tetaplah tersenyum
Goresan wajahmu telah terpatri di lanskap kataku
Menjelma seribu
Menekan tempias pengapku

Tetaplah di sana, Anakku
Berdiri gagah layaknya jundi
Hingga nanti kudapati
Aku bukan segalamu lagi


Kutulis untukmu di sela-sela rasa khawatirku, empat hari menuju dua tahun hidupmu
18 September 2017

READ MORE - Puisi Sang Ibu

Read Comments

Pagi yang Meninggi

Pagi ini, tak perlu melulu tentang mentari. Juga aroma kopi yang aku seduh  sendiri.
Ketika hati tiba-tiba merindu, pada bingkai-bingkai aksara kelabu, sekali lagi aku berucap… “mungkinkah aku terlalu bahagia?” Hingga sastra tak lagi teRasa indahnya.
Mata di sekeliingku masih sama cerahnya. Walaupun sel-sel conus di sana, mungkin meredup. Tapi tak usahlah aku merunut peristiwa itu. Yang penting, kita bahagia.
Seperti waktu yang terus berlari. Aroma kopi itu membuatku terus ingin kembali. Walaupun satu dua detik mengiris hati. Ah, seandainya dapat kuatasi…
Pagi ini sastra kembali menyayat hati. Bukan hanya tentang puisi. Tentang rasa-rasa diri yang kadang mulai lupa kunamai. Padahal  tulisan bisa mengikat sampai mati.
Pada embun-embun pagi aku merebah. Merasakan lagi pilu pada ulu hati yang sempat terlupa.
“Telah kutambahkan lagi air hangat untuk kopimu.” Katamu, sekian menit yang lalu.
Dan aku hanya bisa merenung, sembari melihat cahaya matamu yang meredup.
Lalu aku teringat janji-janjimu, yang membeku namun aku tak rela bila dinamai palsu.
“Terima kasih. Kau tak pernah suka aroma kopi.” Aku mencoba berbicara pada hatimu.
Namun kau hanya diam. Mungkin kita sama-sama faham.
Seiring mentari yang meninggi, waktu kini tak bisa lagi dikata pagi.
Lalu jemari lembut itu menyentuh ujung gelasku,
“Kau hanya sedang rindu.”
Lalu tanpa jeda, aku tergugu. Ah, kau memang selalu tahu.

-37w pregnancy. Stay safe dear...-

READ MORE - Pagi yang Meninggi

Read Comments

Karena Menulis adalah Keabadian

Baik, abaikan tentang ejaan. Abaikan tentang aturan. Menulis hanyalah menulis. Pagi ini saya tetiba terdampar di blog Dee-Dewi Lestari. Salah satu penulis  favorit saya. Karyanya sangat memukau, membuat saya sering kali menghela nafas panjang, atau malah tidak sadar, tidak bernafas dalam membaca satu paragraf dari karyanya. Ya, saya telah begitu jatuh cinta.
Saya sedang bicara sastra. Maka abaikan dulu apakah dia adalah pendukung LGBT—mengingat buku pertamanya berisi kisah seorang gay—atau bukan. Abaikan ia yang tidak pernah menyimpan amanat untuk kaum muslim. Tidak seperti Tere Liye, Andrea Hirata, atau penulis lain yang juga favorit saya. Dewi Lestari adalah pengecualian. Terkadang bukunya tidak baik dikonsumsi orang Islam. Tapi sekali lagi, saya hanya menikmatinya dari segi sastra. Saya mengaguminya karena kepadaiannya dalam meracik kata.
Dan saya langsung tergerak untuk kembali membuka Microsoft Word, hanya karena membuka review buku Supernove yang keenam. Ya, hanya revieuw. Bukan membaca utuh satu buku. Intelegensi Embun Pagi, itu judul bukunya. Saya yang tidak update ini, merasa kecewa karena saat ini, masih belum sadar buku yang amat saya nantika telah terbit bulan Februari lalu. Buku itu adalah buku serial yang jilid satunya ditulis pertama kali tahun 2001, dan tamat lima belas tahun kemudian di jilid keenam.
Saya sudah menyelami kisah supernova dari jilid pertama. Dari cetakan pertama, yang covernya berisi simbol-simbol matriks dan angka. Saya yang membacanya saat masih SMA kala itu, ditengah sibuknya berinteraksi dengan rumus Fisika dan Kimia, merasa terkaget-kaget, kok bisa ini rumus keriting jadi kisah cinta??
Dari sanalah, saya mulai jatuh cinta. Pada Buku pertama Ksatria,Putri dan Bintang Jatuh di jilid pertama, lalu Akar di jilid dua, dan Petir di jilid tiga. Kesemuanya hanya modal pinjam. Walaupun akhirnya saking jatuh cinta sama jilid pertama, saya membelinya lagi, padahal sudah baca. Dilanjutkan berburu membeli online jilid keempat, Partikel. Dan sebagai hadiah ulang tahun dari teman, ia membelikan saya buku Gelombang, buku jilid lima. (Langsung celingak-celinguk, siapa tahu ada yang mau memberi gratis juga buku keenam).
Saya begitu iri pada seorang penulis. Bagaimana mungkin mereka bisa begitu sabar mengetik huruf perhuruf, sedangkan adakalanya jemari kita begitu macet tidak bisa digerakkan? Atau terkadang ide mengucur begitu deras dari kepala, sehingga kecepatan mengetik sepuluh jaripun tidak cukup cepat untuk mengimbanginya.
Ya, seperti sekarang. Saya mengetik dengan kecepatan ekstra. Entah mengapa, begitu banyak yang ingin saya luapkan. Saya tahu, menulis adalah passion saya. Mungkin lebih besar porsinya dibandingkan dengan passion mengajar. Tapi, alangkah kasihannya diri saya ini, karena ternyata penghambat terbesar saya untuk menulis adalah diri saya sendiri.
I love the way you write, mungkin adalah kata terindah kedua dari suami saya, setelah ia berkeringat dingin mengucap ijab qabul di hadapan penghulu tiga tahun silam. Mungkin juga hanya suami saya yang tahu bahwa saya memang suka (dan ada sedikit bakat) untuk menulis. Mungkin jika diasah, saya bisa menulis novel yang tidak jelek-jelek amat.
Hari ini saya hanya ingin berbagi. Tentang betapa kasihannya diri saya yang tidak bisa menyalurkan passion dengan baik. Padahal kadang keinginan menulis itu sudah sampai di ubun-ubun. Gatal sekali rasanya jemari saya ingin mengetik. Tapi, lagi-lagi, pergi pukul tujuh pulang pukul lima, ditambah pekerjaan rumah tangga, balita yang menunggu untuk diurus sepulang kerja, serta kondisi hamil muda anak kedua ini, membuat passion menulis itu harus saya tekan sedemikian rupa. Akhirnya saya memberi janji palsu pada diri saya, PHP istilah ABGnya. Sudahlah, besok lagi menulisnya. Begituuuu terus sampai nanti kulit durian ada ekstraknya.
Ah... Rabbi. Saya iri sekali pada mereka yang berdakwah lewat tulisan. Pada mereka yang menebar banyak inspirasi lewat jemari. Kapan saya bisa seperti mereka? Padahal menulis bisa menjadi me time yang amat menyenangkan. Baiklah, sekarang anakku yang lucu ini sudah tidak sabar lagi untuk mengambil alih si kotak kecil ini. Jendela Word sudah saatnya ditutup dan diganti menjadi Video Litte Baby Bum favoritnya. Saatnya berhenti menulis. Dan melanjutkannya lagi, segera!

Bandung, 2 April 2016
Gerakan menulis sepuluh menit
sumber foto: google
READ MORE - Karena Menulis adalah Keabadian

Read Comments

curcol ^.^

Setahun lebih blog ini tidak berfungsi. Saya jadi bertanya, jangan jangan memerlukan kejadian besar dulu baru mau menulis? Hmm.. sudahlah. Hari ini, tetiba ingin menulis. Mungkin karena masih hangat, saya membaca novel Andrea Hinata, Ayah, yang memanggil bagian lain dari sisi saya untuk menulis.
Hari ini, pukul 15.16, setelah mengikuti rapat sosialisasi UKG di SDN 1 Langensari, sekarang saya duduk di kursi ruang bayi. Menunggui Sagara yang sedang tertidur pulas, sambil telungkup. Badannya yang gendut terlihat naik turun, nyeyak sekali tidurmu, Nak.
Sudah satu tahun usianya. Sudah banyak sekali kelucuan dan keluguan yang bisa diperlihatkannya. Membuat saya, seringkali, ingin menatapnya lama lama di ruang bayi. Yah, begitulah. Kadang saya merasa kasihan pada Sagara, sejak bayi sudah harus ikut Umminya kerja. Saban hari, Sagara dititip di daycare sekolah. Ada dua pengasuh di sana, mengurus lima bayi yang kesemuanya adalah guru di sekolah saya.









Kadang, saat pagi hari saya meninggalkan Sagara dan melambai lambai tangan, pamit untuk masuk kelas,Sagara hanya tersenyum memandangi saya menjauh. Kadang juga menangis dan merangkak menuju pintu. Jangan tanya mana yang lebih mending, karena kedua hal itu di mata saya sama saja. Berat meninggalkannya. Melankolis ya... apalagi kalau mau flashback, sekitar tujuh atau delapan bulan lalu, saya sempat di panggil kepala sekolah, ke kantornya. Jadi terdakwa.
Haha, ya, benar, terdakwa. Sebab musababnya adalah, karena saya setiap pagi berlama lama di ruang bayi. Sehingga jam cerita pagi, selalu diambil alih oleh pendamping saya. Tapi itu dulu, ketika saya menjadi wali kelas  di kelas 1, dan Sagara masih asi ekslusif. Dan, pemirsa, tangis Sagara kalau mau ngAsi, itu suaranya waw banget ^.^; membuat saya si Ibu yang punya anak pertama itu merasa tidak tega, walau jarak daycare dan kelas saya hanya terpisahkan oleh toilet dan dapur.
Yah, tapi itu dulu. Kinerja saya merosot drastis, disamping masih beradaptasi dengan bayi, kelas yang diamanahi kepada saya, itu juga luar biasa. Anak ikhwannya hiperaktif semua. Setiap setelah wudlu, mereka tidak masuk kelas. Tapi lari lari. Saya, dan Bu Novi, guru pendamping, kerap harus mengejar2 mereka yang bisa berlari ke belakang TK, bahkan belakang SMP. Haha, benar benar tahun yang sulit.
Dan sekarang, kehidupan saya di sekolah sudah mulai normal. Saya diamanahi kelas 4 yang cenderung lebih mudah dikondisikan. Sagara juga sudah “anteng” dengan makanan dan mainan. Sagara bisa bertahan sampai ashar tanpa ASI. Jadi saya paling hanya menengok di saat dzuhur saja.
Menjadi seorang ibu, guru, dan istri. Betapa berat dan banyaknya yang harus saya kerjakan. Bayangkan saja, setengah tujuh saya harus sudah berangkat (yah, dan betapa krusialnya jam jam sebelum berangkat sekolah). Tugas di sekolah rampung pukul tiga. Tapi harus menunggu Abi, yang bubar sekolahnya jam 4. Sampai ke rumah pukul setengah lima. Berleha leha, meluruskan pinggang, memandikan Sagara, tahu tahu sudah magrib. Lalu sholat, lalu makan, tahu tahu sudah isya.
Setelah isya, badan yang letih biasanya menuntut untuk segera tidur. Sementara itu, tumpukan piring kotor, bundelan bundelan pakaian yang belum di setrika, tumpukan baju kotor di mesin cuci, dan “peralatan tempur” Sagara yang berserak di segala penjuru, menunggu untuk disentuh. Lalu dimana letak “me time” yang selalu disinggung oleh psikolog, betapa “me time” bagi seorang ibu itu sangat penting.
Oke, apa itu “me time?”
Yaitu waktu untuk melepas segala penat, dan dihabiskan sendiri. intinya waktu untuk melayani diri sendiri. lupakan sejenak kewajiban, dan berikan sedikit waktu untuk dinikmati sendiri. yah, faktanya, hal itu sulit sekali didapat. Saya curi curi waktu, biasanya sambil menyusui, sambil menyalakan laptop, menonton.
Lalu Senin menjadi Jumat, lalu senin lagi. Begitu saja terus kegiatan setiap hari. kadang bosan, kadang lelah. Tapi terkadang senyum si kecil yang tulus bisa meluruhkan semuanya. Satu senyum centilnya, yang kalau tertawa matanya jadi sipit, belum lagi ditambah dengan gaya centil dengan senyum yang ditutupi telapak tangan, bisa membuat rasa lelah itu hilang (walau sesudah itu datang lagi), hehe
All i wanna say here is... thank you Sagara, for being my greatest motivator. Maybe im not a good mom for you, but all i’ve done, all i will do, always put your name behind...
Bahasa inggris ancur, nulis ancur, benar2 tumpul nih syaraf2 di otak kayaknya.. gara2 belum bisa optimalisasi waktu... dan potensi... ya sutralah, just wanna write something... (dan sampai tulisan ini selesai, Sagara masih tertidur pulas ^.^)

Daycare room,

12 Oktober 2015
READ MORE - curcol ^.^

Read Comments

Lautan itu Bernama Sagara

Bismillahirrahmanirrahiim...

Baiklah, kuawali hari ini dengan menulis, sebelum passion menulis itu terbuang hilang seiring waktu yang melayang...
Akhirnya si mungil yang telah bersembunyi 37 minggu 3 hari di dalam rahimku itu sudah bisa kudekap. Bisa kurasakan hangat badan mungilnya. Bisa kutatap matanya.
Aku memanggil memori yang tersangkut pada malam itu, Senin 22 September, pukul sembilan malam. Tepat  5 jam setelah kelahirannya. Dibalutkan dengan kain dua lapis, ia diambil dari bak kaca seukuran akuarium untuk kemudian ditidurkan di sampingku. Asisten bidan yang berjilbab rapi itu meninggalkan kami berdua. Benar benar tinggal berdua. Ayah ibuku sudah pulang, segera setelah tahu bahwa anak dan cucunya sehat. Mungkin dengan perasaan sedikit menyesal karena aku yang tidak diizinkan pulang akibat jahitan terlalu banyak harus menginap semalam, menghabiskan cairan infus yang menyakitkan saat dipasang. Sedang suamiku (sudahkah aku berterima kasih padamu?) juga terpaksa pulang saat aku masih di kamar bersalin karena ternyata kain flanel untuk si bayi sudah keburu habis dipakai alas melahirkan.
Jam sembilan malam itu, aku belajar menyusui untuk pertama kalinya. Tidak nyaman. Untukku, juga bayinya. Tidak ada yang bisa ditelan, tidak ada yang bisa dicerna. Tapi bayi itu begitu baik, tidak menangis, tidak protes. Ia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya, dengan mata yang bergerak gerak lemah, entah ia sudah bisa melihat sekitarnya atau tidak. Aku hanya bisa menatapnya. Itukah yang selama ini kamu lakukan di dalam rahim, Nak? Ia begitu kecil, ringkih, dan amat lemah. Manusia macam apa yang bisa melakukan hal hal kejam seperti membuang bayi, apalagi membunuhnya? Astaghfirullah... tidakkah mereka melihat kebesaranNya dan kesempurnaan penciptaanNya dalam setiap inchi makhluk kecil bernama bayi? Saat itu perasaanku campur aduk. Bahagia, khawatir, takjub, penuh harap, dan merasa begitu kecil di hadapanNya.
Proses persalinan memang menyakitkan. Tapi tentu saja sesakit apapun melahirkan, tidak akan membuat seorang wanita kapok. Termasuk saya. Rasanya saya tidak mengalami trauma yang berarti, dengan kata lain masih berharap Sagara punya beberapa adik, tentu saja beberapa tahun yang akan datang. Kebiasaanku mengintip dan menjadi silent reader di sebuah forum ibu hamil memberikan banyak sekali ilmu. Aku jadi tahu apa itu braxton hicks, bagaimana gambaran kontraksi, bagaimana teori melahirkan yang baik, bagaimana cara mengejan dan mengambil napas yang baik, bagaimana IMD yang baik, walaupun, yah, tetap saja saat persalinan berlangsung, semua teori itu tersapu habis. Ingat, memang. Tapi susah sekali mempaktekannya.
Rasa sakit itu bermula dari pukul tiga pagi. Seperti malam malam sebelumnya, keinginan untuk berkemih di malam hari memang sangat menganggu. Tapi hari Senin dini hari itu rasanya ada yang beda. Ada rasa sakit yang tidak biasa. Tapi aku mencoba menghitung usia kandungan, baru 37 minggu lebih 3 hari, perkiraan hari lahir masih satu sampai dua minggu lagi. Mungkin ini yang namanya braxton hicks, si kontraksi palsu yang sering didengungkan di forum. Aku mengabaikan rasa sakit lalu tidur kembali. Tapi ternyata rasa sakit itu tidak juga menghilang sampai selesai sholat subuh. Aku memutuskan untuk rebahan lagi di kamar.
“Kayaknya aku cuti sekarang aja, Yang, gak jadi minggu depan.” Kataku.
“Ya udah.” Suamiku menjawab.
“Kamu mah sekolah aja, gak usah ikutan cuti.”
“Nanti kalau siang mau ngelahirin gimana?”
Aku hanya tertawa, “tinggal SMS aja.”
Percakapan singkat selepas subuh itu ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Suamiku ikut izin juga hari itu, mungkin khawatir karena rasa sakit yang kukira kontraksi palsu itu tak kunjung hilang, walaupun datangnya masih sangat lambat, sekitar sekali tiap setengah jam. Sekitar pukul delapan pagi, aku mengajak suami untuk jalan jalan, mencari  sarapan. Di perjalanan kontraksi itu terasa lagi, sekitar dua kali. Aku teringat lagi ilmu di forum ibu hamil yang sering kuintip, jika sudah kontraksi, paksakan untuk jalan jalan agar pembukaannya cepat.
Setelah sarapan, aku tidak berdaya, hanya tiduran di lantai beralaskan kasur tipis dan  selimut. Aku menyalakan laptop, sekali lagi, mengintip forum diskusi ibu hamil. Aku mengetik keyword “kronologi melahirkan”, dan muncul banyak sekali cerita dari mereka yang telah melahirkan. Aku juga mencari artikel hypnobirthing, mencoba mensugestikan bahwa melahirkan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Menjelang sekitar pukul sepuluh, kontraksi itu muncul setiap sepuluh menit. Aku mulai meringis tidak nyaman. Masih berbaring dengan laptop di depan mata, tapi sudah tidak menarik lagi isi diskusi di sana. Rasa sakitnya mulai menuntut perhatian. Suamiku yang sedang mencuci piring sambil bernyanyi  nyanyi kecil sesekali melongokan kepalanya ke arahku, mungkin mulai khawatir aku meringis lebih sering.
“Ke bidan, Yang?” tanyanya.
“Nanti.” Aku menjawab pendek, masih bersikukuh dengan teori yang terbaca di forum, tidak usah terburu buru ke dokter atau bidan, tunggu sampai kontraksinya muncul setiap lima menit sekali.
Masih berguling guling di kasur tipis, sang kontraksi mulai muncul setiap tujuh menit. Semakin intens, tapi dengan mengatur napas, kontraksi itu sedikit mereda. Akhirnya, sekitar pukul sebelas siang, saya memaksakan diri untuk mandi dan siap siap ke bidan.  Saya sempatkan shalat dzuhur dan ashar di jam dua belas siang itu. Pikiran saya nanti kalau harus sholat ashar sambil kontraksi, takut tidak sanggup. Dan berangkatlah kami berdua. Tanpa ada yang tahu bahwa saya sudah mau melahirkan. Kami pamit ke nenek, bilang mau ke bidan. Nenek kira mungkin hanya periksa biasa. Kami berangkat ke bidan naik motor. Tentu saja, sambil meringis ringis. Kontraksinya benar benar sudah muncul setiap lima menit sekali.
Singkat cerita, sampai di bidan dan ternyata bidannya tidak ada. Hanya ada asistennya. Tapi asistennya pun memang sudah mumpuni, saya rasa. Beliau masih muda, gadis, berjilbab rapi, usianya satu tahun lebih muda dari saya.
“Iya Teh, ini mah mau melahirkan. Sudah pembukaan empat.” Begitu ujarnya. Saya mengucap hamdalah. Si asbid segera mengecek detak jantung bayi dan tensi darah.
“Bagus. Tiduran ya Teh, kalau kontraksinya muncul, tarik napas. Tidurnya miring ke kiri.” Saya mengangguk, teori itu sudah saya hapal benar. Setelah yakin saya akan melahirkan, segera saya hubungi keluarga dan teman teman. Minta do’a, semoga dilancarkan. Termasuk orang tua saya di Bandung, juga akhirnya diberi tahu. Berdatanganlah do’a dari teman dan keluarga, memberi motivasi dan semangat.
“Allahumma yasir wa laa tu’asir, Bu Siti, semangat.” Do’a dan motivasi serupa berdatangan, membuat saya senang dan lebih tenang.
Ibu saya datang setengah jam kemudian. Minus Bapak yang masih kerja dan minus adik yang masih sekolah. Si kontraksi masih muncul lima menit sekali. Saya masih bisa bercanda dengan suami dan ibu di ruang bersalin. Tapi lama kelamaan semakin sakit dan saya sudah mulai berteriak. Saat itu pukul tiga, dan Asbid bilang baru pembukaan delapan. Subhanallah, rasanya luar biasa. Ibu saya mengelus pinggang yang rasanya sudah terlepas sendinya. Saya menghadap ke arah kiri, ada suami di sana. Ia selalu mengingatkan untuk menarik napas, yang saya mulai lupa. Tangannya saya cengkeram kuat kuat. Entah, mungkin saja sampai lebam.
Bidan seniorpun datang, tapi hanya menengok sesekali. Asbid juga ada di ruangan lain. Kami ditinggal bertiga. Sesekali ia datang, mengingatkan jangan mengejan, jangan teriak teriak, nanti tenaganya habis. Tapi, subhanallah rasanya semua nasehat itu tidak bisa kulaksanakan. Saya masih berteriak juga, masih mengejan juga. Sampai puncak rasa sakit itu tiba. Rasanya sudah benar benar tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya saya menangis.
Sang suami baik hati yang tanganya sudah dicakar cakar itu membungkuk, mendekatkan wajahnya, membisikan kata yang memotivasi. Terus mengingatkan untuk mengatur napas yang sudah sulit sekali dilakukan. Dan saya memeluknya, namun sayang, dipeluk orang yang mau melahirkan itu sesuatu. Karena niat saya hanya ingin memeluknya, tapi yang terjadi malah saya membenamkan kuku dalam dalam di punggungnya. Dan posisi itu tidak berubah sampai bayinya lahir. Pasti sakit sekali... Maaf ya...
Akhirnya pukul empat saya ditengok lagi asbid. Dicek, sudah pembukaan lengkap. Ketuban dipecahkan. Dan rasa sakitnya, hmmm , saya jadi mengetik sambil bergidik.
“jangan mengejan, Teh. Kepalanya belum turun.” Itulah saat yang paling menyakitkan. Ada dorongan di dalam rahim yang membuat saya mengejan secara refleks. Tapi mengejan masih dilarang. Dan saya tahu alasannya. Jika terus mengejan sebelum kepala bayi turun, hal itu membuat kepala rahim bengkak, dan tentunya menghabiskan tenaga sia sia.
Rasanya sudah putus asa. Sambil terus berdo’a, saya mengajak bicara si bayi.
“De, ayo cepet turun...”
Asbid masih di ruangan lain. Juga bidan seniornya. Entah apa yang mereka lakukan. Ibu saya mulai kesal. Beliau pamit untuk sholat ashar. Saya terus refleks mengejan. Dan akhirnya, dengan posisi masih miring ke kiri, di ruangan hanya ada suami, saya merasakan kepala bayi sudah keluar. Saya meminta suami untuk mengecek. Dan ternyata benar, kepala bayinya sudah keluar. Akhirnya Asbid itu datang ke kamar setelah dipanggil. Saya mengubah posisi dari miring ke kiri menjadi telentang. Katanya terdengar robekan, tapi saya tidak sadar. Yang saya tahu, saya ingin segera mengakhiri rasa sakit itu.
Si asbid membetulkan posisi saya, memberi tahu tangan harus dimana, kaki harus bagaimana. Tapi belum lagi ia selesai bicara, bayi sudah meluncur keluar. Ia menangis. Yah, keluar begitu saja. Saya tidak sadar bayinya sudah keluar. Tanpa perlu mengejan, tanpa rasa sakit. bayi  itu keluar begitu saja. Alhamdulillah, saya bersyukur dan berterima kasih pada si bayi yang sudah keluar dengan begitu lancar, dengan pembukaan yang amat cepat, untuk hitungan ibu yang melahirkan pertama kali.
“Subhanallah, cepet banget Teh. Biasanya kalau lahiran anak pertama sampai dua hari dua malam. Ini Cuma tiga jam sudah lahir.” Kata si asbid.
Akhirnya si bayi mungil itu diadzani suami, lalu ditempelkan di dada saya. Masih antara sadar dan tidak, saya hanya bisa terbengong bengong. Suami lalu mencium kening saya.
“Thank you.” Ujarnya pendek.
Saya hanya tersenyum. Teringat cerita cerita di forum. Katanya, saat menunggui melahirkan, ada yang suaminya pingsan, ada yang menangis setelah melihat bayi, ada menunggui isteri melahirkan sambil menangis. tapi walaupun tidak heboh, saya yakin perasaan suami saya juga sama dengan para suami lain yang menunggui isterinya melahirkan. Congrats dear, now you are a father...
Setelah bayi diamankan, saya beristirahat, banyak minum. Lalu bidan mengecek, dan ternyata saya mengalami robekan yang amat parah. Saya bertanya kenapa, kata asbid gara gara tidak ditunggui pas kepalanya keluar. Posisi miring kepalanya sudah keluar, alhasil saat membalikan badan, robekannya jadi besar. Ia juga terlihat merasa bersalah.
“Soalnya ini cepet banget, Teh. Biasanya kalau belum semalaman mah belum mau turun kepalanya.” Saya mencoba mengerti. Ya sudah, mungkin memang takdirnya harus seperti itu. Akhirnya saya dijahit. Tidak tanggung tanggung, oleh empat orang. Bidannya berkata, luka sobekan macam itu harusnya dirujuk ke dokter kandungan dan dibius total. Tapi mungkin karena merasa bersalah juga, akhirnya ditangani di sana.
Jangan tanya bagaimana rasanya dijahit. Bius lokal yang diberikan rasanya tidak begitu terasa. Saya masih bisa merasakan jarum yang keluar masuk, masih merasakan benang yang disimpul. Begitu terus, selama dua jam. Ya, jaitan itu baru selesai setelah dua jam. Dan ditengah tengah proses menjahit itu, saya sudah benar benar lemas, sehingga akhirnya saya diinfus.
Sagara Sunda Al Fadli...
Cerita ini bukan untuk menakut nakuti mereka, para ibu yang akan melahirkan. Karena pada faktanya, rasa bahagia saat melihatmu mengalahkan semua rasa sakit itu.
Cerita ini untuk mengingatkan anak yang mulai lupa pada ibunya.
Cerita ini untuk mengingatkan suami yang mulai lupa pada isterinya.
Cerita ini untukmu, anakku. Mungkin suatu hari nanti, ketika Umi Abi sudah tidak ada di dunia lagi, kamu masih bisa mengenang kami lewat tulisan tulisan kecil ini.
Cerita ini untukmu, anakku. Untuk menghargai hidup, untuk mengingatkanmu bahwa hidup adalah perjuangan dan kamu harus mengisinya dengan kebaikan.
Kenapa kamu diberi nama Sagara?
Abi bilang, Sagara itu lautan. Lautan itu menampung segala macam air. Ia tidak pilih pilih. Air kotor, air bersih, air hujan, semua ditampungnya. Tapi ia mampu membuat semuanya sama. Menjadi jernih dan asin. Kami harap, kamu juga demikian. Jadilah anak yang bisa menampung segala. Segala amanah, segala ilmu, segala pelajaran dari hidup, tampunglah, Nak. Tapi jadikan semua itu satu. Jadikan semua itu jalan menuju ridhaNya. Jadikan semua itu cara untuk menjadi dekat padaNya. Sekonsisten lautan yang mengasinkan air...
Kata Abi lagi, lautan itu tenang dan menyejukkan saat dilihat. Jadilah anak yang lemah lembut pada saudaramu kelak. Jadilah penenang bagi orang di sekitarmu.
Masih Abi yang bilang, laut juga bisa marah dan mengamuk menjadi tsunami. Bersikap tegas dan perangilah orang orang yang menghina agamamu kelak. Jadilah pejuang paling depan dan bersikap keraslah pada musuh musuh Islam.
Itu sebait do’a yang kami selipkan di balik namamu. Jadilah anak yang sholeh, Nak. Dengan segala keterbatasan kita, semoga Rabb yang Maha Segalanya, masih mengizinkan kita berkumpul di JannahNya, kelak...  Aamiin...



Bandung, 6 Oktober 2014
Hujan pertama di musim kemarau, di lima belas hari setelah kelahiranmu
                                                
READ MORE - Lautan itu Bernama Sagara

Read Comments

Mari Berceloteh

Akhirnya menulis lagi ^^
Akhir akhir ini lebih sering main spider solitaire sama suami. Setiap buka laptop pasti keranjingan. Hehe, aneh juga sebetulnya. Itu kan game garing yang membingungkan, tapi kami sama sama keranjingan. Spider solitaire yang 4 daun, lumayan membuat kening kami berkerut kerut. Btw,  ada yang nyadar ga yah kalau saya gak bisa menulis karakter strip yang harusnya nangkring di kata yang diulang? Macet brader karakter itu gak mau keluar, halah...
Andaikan blog ini adalah sebuah rumah, pasti ia sudah menjelma menjadi rumah yang menyeramkan. Minimal macam rumahnya keluarga Ravenwood di film Beautiful Creatures yang semalam ditonton. Saatnya kembali ke rumah dan memastikan bahwa saya si empunya blog masih sehat wal afiat dan masih bisa menulis ^^
Hmmm, sebetulnya saya ingin menulis yang agak agak nyastra gimanaaa gitu. Tapi kayaknya lagi tidak bisa bermelow melow ria. Akhirnya jadi menulis diary ringan saja, yipppy... hari ini di Lembang angin nya guedeee bangget. Aku sampai tidur lagi setelah sarapan>>nah lo, gak nyambung.
Hari hari masih kujalani sebagai seorang istri merangkap guru di Sekolah Dasar Islam Terpadu. Pluuus sebagai ibu hamil pula. Banyak banget yang ingin di share selama hamil, tapi ya begitu lah, sudah pada menguap ceritanya. Paling sekarang yang terasa adalah badan berat semua, kaki bengkak, mau bangun setelah duduk susahnya minta ampun. Harus ngulet  ngulet dulu nyari posisi yang pas, atau cara termudah nyodorin tangan ke suami minta ditarikin biar bisa berdiri, hehehe. Berat badan naik drastiiiiis, sebelum hamil masih 50 Kg, sekarang jadi 65 Kg. Gak tahu tapi sih, kayaknya masih bisa naik lagi sampai lahiran entar, hohoho.
Rasanya menyenangkan sekali akan menjadi ibu. Kadang suka senyum senyum sendiri. amanah terbesar itu akan segera datang, dan aku harap bisa menjaga amanah itu dengan baik. Persiapan untuk menyambut sang buah hati yang sekarang sudah berat banget di perut ini sudah lumayan cukup. Sempat beli kasur, baju, celana, flanel. Dan ternyata ada telepon dari Teteh di Bogor kalau di sana mau maketin perlengkapan bayi yang subhanallah kemarin di bbm in fotonya, banyak banget. Sampai bingung ngirimnya gimana, via JNE pasti mahal banget ^^
Alhamdulillah, rizkinya Si Ujang.
Ujang? Iya, kata dokter yang USG kemarin di RS Salamun sih katanya bayinya laki laki. Wah suamiku seneng banget, termasuk ibuku juga seneng banget, secara gak pernah ngurusin bayi laki laki. Yang kurang seneng adalah adikku, katanya sih gak asyik, gak bisa dipakein bando katanya, hehe. Aku pribadi juga lebih cenderung ingin punya anak laki laki, gak tau kenapa. Mungkin karena gak pernah punya adik laki laki. Tapi itu baru hasil monitoring alat buatan manusia saja, wallahu a’lam, sangat mungkin sebetulnya si debay ini perempuan.
Kondisi terakhir katanya sih bagus. Sehat, normal. Ketuban cukup, kepala sudah turun, ari ari di atas, berat janinnya 3 Kg. Usia kandungan kalau dihitung dari Haid terakhir baru 36 minggu, tapi menurut USG sudah 38 minggu. Jadi kata sang dokter yang baik hati itu bayinya seharusnya sudah lahir 2 minggu lagi. Hihi, bentar lagi yaa...
Gak tau bisa apa enggak entar ngelahirinnya, apalagi mengurus setelah lahirnya. Tapi, bisimillah saja. Cuma bisa berdo’a semoga persalinan lancar, akunya kuat, bayinya sehat, dan jadi bayi yang sholeh setelah lahir nanti, aamiin...
Kami sudah menyiapkan nama, rasanya sudah fix kalau laki  laki mau dikasih nama itu. Dan jujur saja, kalau untuk perempuan, kami belum tahu. Memang feeling dari awal anaknya laki laki sih, hihi. Stay safe on my belly, baby... see you very soon. ^^
Lembang, 14 September 2014

Mengetik sambil merasa heran, ada cowok ganteng tidur jam 12 siang pakai selimut tebal :p
READ MORE - Mari Berceloteh

Read Comments
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men