Yang Mereka Sebut Kerendahan Hati


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput,
Tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

(Taufiq Ismail – Kerendahan Hati)

            Puisi itu sudah saya baca berkali-kali, karena puisi itu ada di belakang buku penghubung di sekolah. Buku yang mengabarkan aktivitas anak setiap hari kepada orang tuanya. Dan saya, hari ini tiba-tiba merasa puisi itu memiliki bobot lebih, mengandung makna yang semakin dalam, manakala saya memang merasa saya tidak bisa menjadi seorang kapten—pun masih terseok-seok sebagai awak kapal.
            Lagi, katanya jangan pernah menyalahkan siapapun. Kenapa  hujan  datangnya dari awan. Kenapa gajah mempunyai gading. Kenapa jari kelingking lebih kecil dari jari  telunjuk. Semuanya mungkin mengandung harmoni. Yang jika hilang salah satunya, akan membuat dunia  ini tak lagi asyik.
            Mungkin Anda pernah mendengar, “apa yang akan terjadi  jika di dunia ini hujan uang?” sebuah lelucon yang sering diputar ulang. Saya mendapat pertanyaan itu sudah amat lama, mungkin saat saya masih berponi dan memakai seragam merah putih.
Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan jawabannya. Karena sudah pasti saya akan senang. Saya akan membeli cokelat, permen, es krim, sebanyak yang saya mau. Saya juga mau berikan uang kepada orang tua saya, untuk membeli ini dan itu.
            Lalu pertanyaan kedua dari lelucon itu adalah, “memangnya siapa yang mau jual cokelat? Es krim? Kan pedangangnya juga sudah punya uang banyak. mereka tidak perlu kerja lagi.” Tiba-tiba saya terdiam. Lalu pikiran saya berlari ke pasar yang kadang saya datangi bersama Ibu saya. Saya ingat tukang majalah bekas—tempat saya membeli majalah bobo yang sudah usang dengan harga murah. Saya ingat tukang kangkung, sayuran favorit saya. Saya ingat tukang jepit rambut yang membuat saya selalu berhenti sejenak dan merengek pada Ibu, minta dibelikan model baru.
            Oh, iya ya? Kalau semua orang jadi kaya, siapa yang mau gantikan mereka jualan?
            Dari situ, mungkin ada nilai-nilai filosofis yang ditanamkan. Ada pembelajaran yang tidak disadari masuk ke dalam hati saya. Yang mungkin baru saya sadari setelah saya sebesar ini. Bahwa Allah, telah merancang kehidupan sedemikian rupa untuk mengindahkan dunia yang diciptakan-Nya. Banyak orang kaya, banyak juga yang kurang kaya. Yang cantik, dan kurang cantik. Yang pintar, dan kurang pintar. Yang putih, dan kurang putih.
            Esensinya adalah, bagaimana mungkin kita merasa lebih dari orang lain, sedang orang lain itu adalah indikator dari kelebihan yang kita miliki. Katakanlah saya kaya. Kenapa saya harus menghina orang miskin? Sedang saya dikatakan kaya, karena ada orang-orang miskin.  Atau contoh lain yang memang hanya berisikan antonim-antonim yang saru.
            Sekali lagi, dunia ini butuh penghuni yang akan meramaikan. Dunia ini butuh “letupan-letupan kecil” yang sengaja dirancang oleh-Nya agar lebih ramai. Tidak semua orang harus jadi kapten. Tidak semua orang harus jadi presiden direktur. Tidak semua orang harus pintar. Kita dilahirkan sudah sepaket dengan segala watak, dengan segala sifat, dengan segala aksesoris yang telah dipatenkan oleh buku-Nya.
            Tugas kita selanjutnya adalah, bagaimana kita bisa memaksimalkan “jatah” yang telah diberikan itu. Bagaimana kita bisa mengoptimalkan modal yang dipinjamkan pada kita sebelum  Sang Pemberi Modal, mengambil kembali semua titipannya.
            Saya adalah orang yang tidak bisa menjadi beringin di puncak bukit. Saya mungkin juga bukan belukar di tepi danau. Atau rumput yang memperkuat tanggul. Bukan pula jalan kecil yang membawa orang kepada mata air.
            Saya hanya seorang perempuan, sulung  yang mempunyai adik yang baik, orang tua yang luar biasa. InsyaAllah seorang calon istri, seorang calon ibu, seorang guru, merangkap seorang murid. Saya yang ingin memperbaiki diri. Yang ingin belajar, yang ingin berjalan, dan berlari bersama, menuju suatu proses pendewasaan, yang memang tidak mudah. Anda mau berjalan dan berlari, sekali lagi, bersama saya?
            Although they plan, Alloh also plans.And Alloh is the best of planners.(Q.S Al-anfal:30)
READ MORE - Yang Mereka Sebut Kerendahan Hati

Read Comments

When I'm Telling About Me to Myself


Dari dulu, sebab akibat sebagai makhluk sosial sudah digembar-gemborkan. Tidak bisa hidup tanpa orang lain. Tapi kadang, ada orang lain yang membuat kita benar-benar merasa tidak nyaman. Saya orang yang sensitif, amat mudah tersinggung, peka, penakut, dan lain sebagainya. Mungkin kalau saya membuka google dan mengetik kata “ciri-ciri orang melankolis-plegmatis” saya akan menemukan sederet sifat yang “gue banget”—itu kalau kata ABG.
Susah memang, menjadi orang yang mudah tersinggung, mudah menangis. Saya kadang iri dengan orang yang bisa ceplas ceplos, pada orang yang bisa bergaul dengan mudah, adaptasi dengan teramat cepat... karena saya benar-benar bukan tipe orang yang seperti itu. Tapi, lagi-lagi Alloh itu maha adil. Dengan sifat seperti itu, tentu saya juga punya keuntungan. Saya kerap memikirkan perasaan orang, cepat menyadari situasi. Juga cepat menyadari perubahan yang terjadi. Kalaulah ada orang yang sedang marah, kesal, atau senang, biasanya saya segera tahu.
Kembali ke masalah makhluk sosial. Orang seperti saya, ketika dihadapkan dengan kondisi yang harus berinteraksi dengan banyak orang, beragam karakter, biasanya sudah malas duluan. Kalaulah ada sekelompok orang bergerombol di suatu tempat, saya hendak lewat, saya akan memilih jalan memutar—yang lebih sepi.
Seperti itu juga saya menjalani hidup. Saya lebih senang menghindari sesuatu, cenderung tidak mau terlibat orang banyak... satu penyakit sosial yang harus diberantas lekas-lekas. Dan ketika saya harus memberikan semangat kepada orang lain, yang mungkin tingkat ke”plegmatis-melankolis”annya lebih tinggi dari saya... itu membuat beban saya lebih berat lagi. Bagaimana bisa? Logikanya, saya orang yang masih belajar jalan, tapi sudah harus menggendong. Berat, amat berat.
Tapi itu pembelajaran namanya. Dengan hal itu, mungkin bisa membuat saya lebih cepat belajar berjalan. Membuat saya harus lebih semangat mengejar ketertinggalan. Membuat saya, membuat saya, membuat saya. Hal ini bisa membuat saya enggan belajar, menyerah sepasrah-pasrahnya. Atau pilihan lain, membuat saya belajar lebih banyak, lebih lama melihat, lebih lama mendengar, lebih banyak berpikir...yang tentunya akan amat sulit.
Saya hanya ingin berbagi. Tentang beban yang kini ada di pundak saya. Tentang sesuatu yang tampaknya sedikit mengganggu hari-hari saya. Si anti sosial yang kelewat sensitif. Tapi, lagi-lagi saya harus memotivasi diri. Jika bukan saya yang membuat nyaman hidup saya sendiri, lalu siapa? Bukankah rasa takut, rasa tidak percaya diri, dan tektek bengek si melankolis-plegmatis itu, bukan pesanan saya pada Allah?
Seandainya bisa memesan, dulu sebelum lahir, mungkin saya akan pesan karakter yang kuat, keimanan yang kokoh, hati yang bersih, fisik menarik, kekayaan melimpah plus barokah. Saya yakin saya akan memesan hal-hal sejenis itu. Tapi karena saya dilahirkan seperti ini, titik ridha Allah pada saya seperti ini, maka ini saatnya untuk mengoptimalkan. Saya bicara optimal, bukan lagi bicara di ranah maksimal.
Hmmm... Ada jeda sekian menit dari penulisan paragraf ini, dengan paragraf sebelumnya. Ada kelegaan yang mengalir. Ada beban yang dikeluarkan sedikit demi sedikit. Itulah mengapa saya suka menulis. Segalanya terasa lebih ringan sekarang. Biarlah cerpen saya tak berkembang lagi, biarlah buku saya tak bertambah lagi. Biarlah blog saya mati suri. Tapi dengan menulis, minimal saya bisa lebih berdamai dengan diri sendiri. minimal saya lebih mencintai hidup, dengan berbagai macam hiasan di dalamnya. Yang paling penting, mudah-mudahan dengan menulis, saya bisa lebih dekat dengan-Nya.

Saatnya mengedikkan bahu dan terus menjalani hidup. 
Saya bukan tidak peduli, tapi saya menikmati.
Ada yang mau ikut berlari?




READ MORE - When I'm Telling About Me to Myself

Read Comments

Untukmu: Yang Bernapas Hari Ini



Mungkin bilangan bulan sudah tak lagi muat di jemarimu. Saat segala proses menua, hingga tak mudah lagi kau temukan ujungnya. Mungkin buram, mungkin kusam. Tapi sudah layak waktu yang kau nantikan.
Ketika jemariku sudah enggan menulis sesuatu, kadang kamu melecutnya. Tapi mungkin lecutan-lecutan itu tidak cukup kuat untuk menggerakkan roda kemalasan. Tapi hari ini, setelah satu tulisanku selesai,  dan sepertinya aku masih harus menuliskan sesuatu, untukmu yang bernapas hari ini.
Tadi pagi (aku rasa kamu masih mau mendengar cerita-cerita remeh tentang hidupku) di perjalanan sekian belas kilometer yang kusesap setiap pagi dan petang, aku menemukan sesuatu yang istimewa. Membuatku ingin terhenti sejenak. Namun air hujan masih menampar-nampar, tidak mengizinkanku berhenti walau untuk sebentar. Di sebelah kanan sana, aku melihat awan gelap bergulung-gulung. Namun yang tidak biasa, di tengah-tengah awan gelap itu, ada sebagian kecil langit yang tidak berawan. Benar-benar bersih, terang. Ada cahaya menyusup diantaranya. Satu lagi paradoks, bila boleh kubilang begitu.
Cahaya itu jatuh memandikan gundukan-gundukan tanah di bawahnya. Tanah yang dari kejauhan nampak seperti lukisan. Beberapa rumah terlihat dari tempatku menatap saat itu. Warnanya keemasan. Rasanya aku cukup beruntung menyaksikan momen indah seperti itu.
Untukmu yang bernapas hari ini, sudah kudengar bisikanmu beribu jam yang lalu, bahwa kamu meminta izin agar bisa menjadi bagian dari diriku—mata. Masih ingatkah saat kamu berkata, “let me be your eyes.” Saat kamu berkesempatan menikmati suguhan indah alam, dan aku hanya bisa menatap empat dinding di kamar rumah. Kamu bilang biar kamu saja yang lihat, dan biar kamu menjadi mataku, sehingga walau aku masih di rumah, aku bisa tetap melihat keindahan alam yang kamu cecap.
Entah berapa banyak kata darimu yang ingin aku rekam dan simpan di otak kanan. Tapi sungguh, kata itu yang tersimpan paling baik di kepalaku. Kau tahu mengapa?
Hari ini, mungkin aku merusak harimu. Entah kamu yang merusak hariku. Seperti yang sudah-sudah. Kadang kita terlihat seperti minyak dan air dalam beberapa hal. Entah aku atau kamu yang keras kepala. Mungkin dua-duanya. Kadang orang dengan golongan darah sama memiliki kepribadian yang nyaris sama dalam berbagai hal. Tapi ternyata, itu saja tidak cukup bagi kita untuk saling mengerti.
Jika usia seseorang dihitung sejak tanggal kelahirannya, maka berubah lagi usia yang kamu miliki. Sudah tidak termasuk remaja lagi, mungkin. Tapi aku berjanji, hidupmu tidak akan jauh berbeda. Apalah beda hari ini dan kemarin. Nikmati hidupmu. Isilah lembar-lembar putih buku hidupmu dengan segala yang bertitel kebaikan. Karena dengan kebaikan, maka hidupmu menjadi baik. Kamu memang manusia paradoks, sudah kubilang. Kamu bisa sangat berani untuk satu hal, melebihi tingkat keberanian orang lain. Tapi kadang kamu begitu takut menghadapi sesuatu yang menurut orang lain bukan apa-apa. Tapi itulah kamu. Dan aku menyukai sifatmu yang seperti itu. Jangan khawatir. Keberanianmu itu, pakailah untuk melindungi orang lain. Dan ketakutanmu, biarlah Tuhan, dan orang lain yang ada di sekitarmu ,menjadi penenang bagimu.
Hari ini, kita tidak bicara banyak. dan aku sama sekali tidak ingat dengan hari ini. Mungkin karena ada tanggal yang lebih sering kupikirkan akhir-akhir ini. Tapi itu bukan sebuah excuse untuk membenarkan sebuah kesalahan. Kamu muslim. Yang berkata, “kita bukan orang urban yang harus mengingat dan memperingati ulang tahun.” Tapi rasanya tetap tidak adil, jika hari ini, aku yang begitu lupa—dan tidak hanya lupa,malah menjadi minyak dalam airmu—tidak lekas minta maaf dan mendo’akanmu hari ini.
Aku sudah tahu banyak tentang mimpimu. Jadi rasanya tidak perlu kudikte satu demi satu. Hanya sebuah do’a semoga segalanya dimudahkan untukmu, “Allahumma yassir wa laa tu’assir.” Semoga kisah minyak dan air hari ini, segera selesai, secepat yang sudah-sudah...

Di ruang kamar yang tak lagi berdinding merah,
 3 Mei 2013
19:31





READ MORE - Untukmu: Yang Bernapas Hari Ini

Read Comments

Hampir Lupa Punya Blog :p


Assalamu’alaikum wr.wb... ^_^

Kapan ya terakhir menulisi blog? Akhir-akhir ini saya masih sibuk dengan sekolah. Sekolah yang benar-benar fantastis, selalu memaksa saya berlari... *baca: banyak kerjaan. Hari ini tepat tanggal 24 Februari 2012, hari pemilihan Gubernur Jawa Barat. Mudah-mudahan pilihan saya bisa maju sebagai Gubernur lagi untuk periode ke dua, membawa Jawa Barat menjadi provinsi yang semakin baik, aamiin...
Saya tidak akan bicara politik, karena saya memang tidak tahu apa-apa. Saya akan membicarakan tentang... eng-ing-eng... pernikahan.
Satu kata yang terasa amat jauh itu mungkin sebentar lagi kujalani. Countdown menuju hari-H semakin dekat. Tapi saya masih kalem-kalem aja. Malah keluarga yang lebih heboh. Nelpon ini, nelpon itu. Info sini info situ, hihi. Lucu rasanya. Ibu saya malah sudah booking rias pengantin segala... ya mungkin itulah (lagi-lagi) yang dinamakan rasa kasih sayang, dari orang tua kepada anaknya.
Tapi sebetulnya mempersiapkan pernikahan itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Walaupun saya masih blah-bloh dan nampak tidak tahu apa-apa, tapi menjadi seseorang yang kerap ditanyai tentang pernikahan, tentang persiapannya, membuat saya merasa saya benar-benar akan menikah. Hahaha, rasanya memang aneh. Sampai detik ini, saya masih tidak sadar sepenuhnya saya sebentar lagi menjadi istri orang.
Keinginan untuk menikah itu memang ada. Terlebih karena sejak dua-tiga tahun yang lalu saya kerap bergaul dengan akhwat-akhwat yang sudah menikah. Apalagi motivasi dari orang-orang sekitar, ditambah fanfage-fanfage facebook yang banyak sekali menggembar-gemborkan pernikahan dini. (kalau saya menikah, masih disebut pernikahan dini tidak ya?) iya aja deh, saya kan masih muda ^^.
Mungkin hampir seratus persen perasaan seseorang yang sebentar lagi menikah, seperti saya. Bingung harus ngapain. Saya rajin browsing artikel-artikel pernikahan, pahala bagi yang sudah menikah, dan lain sebagainya. Saya jadi teringat salah satu buku yang bagus sekali, judulnya “nikmatnya pacaran setelah pernikahan” karya siapa ya, aduh maaf... saya lupa. Kalau tidak salah Salim. A. Fillah... ya, betul itu dia. Beliau adalah seorang penulis yang sangat hebat. Buku itu sudah saya baca ketika saya masih SMA. Sampai tiga kali khatam saya serap  nutrisi dari buku islami itu. Dan memang setelah membaca buku itu, saya jadi bercita-cita ingin nikah muda, hihi... tapi jujur saja, buku itu sudah saya berikan pada teman, dan saya mulai lupa pembahasan apa saja yang ada di buku itu. Yang jelas, isinya bagus. (mungkin saya bisa cari-cari lagi buku itu, untuk kemudian dihisap lagi gizinya)
Well, apapun itu. Terlepas dari siapa yang lebih sibuk, siapa yang lebih gugup, saya hanya berdo’a semoga pernikahan itu berjalan lancar. Semoga Alloh memudahkan segalanya. Semoga ikhwan di ujung sana yang berniat menjadikan saya istrinya memang orang yang sudah dipilihkan Alloh untuk saya. Meridhai pernikahan kami, dan menjadikan kami keluarga yang tidak hanya “numpang hidup” di dunia, tapi menjadi keluarga yang berbuat sesuatu, untuk agama-Nya. Aamiin.
-bersambung, boleh ya?- hihi
Salam ^^
READ MORE - Hampir Lupa Punya Blog :p

Read Comments

(Mungkin) Dahaga


Perlahan, kusibak tetes demi tetes waktu. Dengan rakus kuminum, kuselami. Namun ternyata rasa haus itu tak kunjung berhenti. Malah semakin menjadi. Mungkin memang kurang rasa, kurang warna. Mungkin perlu kutuang satu dua tetes perisa. Agar lidahku menjumpa suatu yang baru. Aku berjalan ke arah-arah penjuru. Mencari satu dua warna, rasa. Aku tukar uang terakhir yang kupunya dengan apa yang mereka perdagangkan.               
Hmm, sayangnya terlalu mahal. Uang yang sudah sulit kucari itu, tak menjadi apa-apa. Tak menjadi segala. Aku berpikir mencari cara. Satu dua penjual kutinggalkan paksa. Demi mencari sesuatu yang lebih bermakna. Aku kembali berputar.
Mencoba lagi beberapa nuansa. Kini rasa haus itu menggila. Ia mengganggu, menuntut. Sedang aku masih tak bisa meminum apa-apa. Mulutku  menolak tetes-tetes air putih yang sudah bertahun-tahun kukecap. Sudah bosan rasanya.
Lalu tiba si penjual tua. Tangan keriputnya membawa. Ia serahkan rasa baru itu padaku. Pada kerongkonganku yang juga ikut menua. Ditegaklah isinya. Dinikmati airnya. Dikristalkan rasanya. Diingat-ingat warnanya.
Si penjual tua tak hendak mengambil recehan yang kubawa.
“Masukkan lagi ke dalam kantong bajumu. Aku tak menginginkannya.” Lalu ia berbalik pergi. Meninggalkan aku dengan sejuta tanya. Bahkan belum sempat kutahu namanya.
Aku juga belum mengucap terima kasih padanya. Rasa hausku terobati sudah. Dahagaku menghilang, tak lagi terbayang-bayang. Aku ingin mengejarnya, memberikan apa saja yang aku punya.

Namun tanganku bergetar.
Hebat.
Mataku berputar.
Air mata mungkin ingin memancar.
Rasanya sakit, sakit sekali.
Kemudian yang kulakukan,
Hanyalah  tertatih,
dengan kerongkongan  yang mungkin terbakar...

Di bawah langit-langit kamar,
9 Januari 2013

READ MORE - (Mungkin) Dahaga

Read Comments

Pencarian?


Karena saya berkata benar. Semoga tidak termasuk munafik. Ketika saya mengatakan saya akan mendukungmu, maka itulah yang akan terjadi. saya mungkin menukil satu persatu kata yang terlihat—atau mungkin terdengar—carut marut. Kata-kata yang bahkan saya sendiri saja tidak begitu paham. Karena mungkin terlalu sulit untuk diurai.
Pun ketika semalam saya bermimpi. Mimpi yang tampak terlalu nyata, meski ternyata setelah bangun tidur, mimpi itu tak lagi terlalu istimewa. Hanya bercerita tentang kesetiaan saya, pada seseorang (atau mungkin sesuatu?) yang tetap saya pegang teguh bahkan dalam kondisi yang amat kritis...
Biarlah, mungkin mimpi itu hanya ilusi dari otak saya, di sudut yang dinamakan para ahli sebagai subconcious mind, yang kelewat lelah menumpuk kecemasan saya. Kecemasan-kecemasan yang tidak berhasil saya hilangkan sebelum tidur, akhirnya saya tabung di ruang subconcious mind itu, lalu kemudian tumpukan itu perlahan menjelma urat-urat mimpi yang terkadang menyesakkan. Membuat jantung saya berpacu lebih cepat, dengan keringat mengucur deras, dan tentu saja, ketidaknyamanan saat bangun tidur. Lalu beberapa detik setelahnya saya akan sakit kepala. Migrain yang biasanya hilang jika ditidurkan, kini malah muncul. Berlebihankah jika selanjutnya mimpi-mimpi itu saya namai si pemanggil migrain?
Lantas, kemana saya harus mencari? Apa usaha saya untuk mengurangi kecemasan-kecemasan itu? Sementara saat saya hendak berbicara, saya terlampau gagap. Akhirnya, hanya bisa saya simpan dalam hati. Kadang terbawa mimpi (lagi). Atau mengalir bersama air mata yang kadang saya tak suka. Atau berakhir seperti ini, tulisan-tulisan di Ms Word yang saya berikan proteksi di laptop. Atau meng-copy tulisan berproteksi itu di halaman blogger dan memajangnya di blog sebagai untaian kata-kata yang tidak bermakna.
Terlepas dari segala “kecemasan” yang masih sulit saya uraikan bahkan pada telinga sendiri, saya sadar, kini saatnya saya mencoba menggali. Menggali apa saja. Mungkin tulisan-tulisan di loakan. Mungkin ayat-ayat suci yang menenangkan. Mungkin ilmu yang meneduhkan. Mungkin senyum kawan. Entahlah. Yang paling penting adalah, harus ada tindakan. Karena saya juga bosan berputar-putar di titik yang sama. Seolah maju berpuluh-puluh langkah, padahal sejatinya, saya hanya berjalan di tempat. Sedang waktu tetap memacu, memburu.
Sebelum saya menggali ke tanah-tanah asing yang menanam banyak duri, mungkin sebaiknya saya mulai dari hati sendiri. saya mulai pencarian dari kenangan mata saya sendiri. Dalam keranjang-keranjang bias yang sudah setengahnya terpenuhi. Pasti ada sesuatu di sana.
Tulisan pagi ini mungkin tanpa esensi. Dan saya tak hendak membaca ulang jejak jemari saya kali ini. Hanya ingin menulis. Tanpa editing, tanpa mengubahnya agar lebih enak di baca. Biarlah. Yang penting sudah ada yang mengalir. Dan saya mohon maaf bila ada yang membaca, lalu merasa bingung, saya bicara apa?
Tapi, saya yakin. Akan selalu ada yang mengerti ini. Karena saya bicara di balik kata. Ia akan mengerti, bahkan sebelum kata itu saya bahasakan. Mungkin, penyemangat terakhir dari murabbi saya kemarin siang, bisa membantu saya memulai pencarian. “La takhof, wa la tahzan, teh Siti.”


Di karpet biru usang,
29 Desember 2012
07:05 am


READ MORE - Pencarian?

Read Comments
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men