Gelas Kecil

Jika kamu tercipta dari rinai hujan malam ini

Aku akan menampungmu

Lalu kukumpulkan menjadi bergelas-gelas huruf


Sebagian darimu yang lepas dari genggamanku

Akan kubiarkan menelusuri lekuk-lekuk tanah

Hingga kamu terjebak di sana

Menggenang menjadi cermin alam

Tempat berkacanya bayangan-bayangan kata


Sisanya lagi

Mungkin akan terus mengalir

Menghanyutkan jejak frasa

Hingga sampai di ujung muara

Menemui kalimat-kalimat yang membuih di samudra


Jika nanti hujan turun lagi

Menumpahkan puisi

Maka pulanglah

Kembalilah padaku

Pada gelas kecil yang selalu ada

Untuk menampungmu

***


Bandung, 30 April 2012 

READ MORE - Gelas Kecil

Read Comments

Asap Lesap


Tanganku memenjara asap
Erat, kuat
Tak kubiarkan sedikitpun cuat

Sayangnya, di ujung hari
Takdir-takdir congkak
Menggariskan asapku sampai lesap

Tanganku dipenuhi nol
Hingga titik semakin titik
Dan selasar luka melama

Ya, asap itu
Yang terlahir akibat rindu
tak pernah puas mencumbu waktu

Bandung, 15 Mei 2012
READ MORE - Asap Lesap

Read Comments

Curnin; Curhat Senin



                Saya tidak paham, kadang sudah berusaha untuk memahami, tapi tetap tak ketemu juga kenapa. Hati itu rasanya lebih sulit dijangkau daripada orang itu sendiri. Hmm, ceritanya saya lagi menggalau. Atau mungkin marah, saya tidak tahu. Yang jelas harus ada sesuatu yang harus saya luapkan di sini.
                Hari ini hari pertama saya mengajar lagi, setelah libur panjang puasa dan Idul Fitri, tiga minggu lamanya. Saya merasa sedikit malas untuk memulai aktivitas lagi. Tapi semua kemalasan itu biasanya hilang saat sudah kutemui wajah-wajah polos yang sering membuatku tertawa itu.
                Ada apa, ya, dengan hari kemarin? Rasanya tidak ada yang salah. Tapi dia, seseorang itu, tiba-tiba saja marah. Menghilang. Dan itu membuatku gusar. Mau minta maaf, saya tidak mengerti apa salah saya. Awalnya saya mencoba untuk minta maaf. Lalu dia tanya, “memang kamu salah apa?”dan voila, tentu saja saya tidak bisa menjawab.
Idealnya, mungkin, saya harus sabar, dan menunggu dia berhenti manyun, lalu pelan-pelan berkata, “I don’t know why. Would you tell me?” Biasanya dia akan berbaik hati untuk menjelaskan jika marahnya sudah mereda.  Dan, rata-rata aku memang bisa mengerti mengapa dia bisa marah. Tapi Ojaaaan, ternyata teori tinggal teori. Faktanya kemarin malam saya malah ikut marah. Hmm, benar-benar tidak dewasa.
Kadang saya ingin mengalah, tapi biasanya, ujung-ujungnya, saya tidak berhasil. Dia-lah yang akan mengalah. Mungkin perbedaan umur diantara kami yang cukup jauh juga berpengaruh. Saya cenderung sensitif,meledak-ledak, dan biasanya tidak mau diskusi kalau sudah marah—diam—adalah bagian favorit saya kalau sedang marah.
Tapi, hei, tahukah kamu. Saya paling takut kalau dia marah. Dia tidak akan kasar, membentak, memaki. Dia bahkan tidak mendiamkan saya seperti saya mendiamkannya. Dia masih menghubungi saya, tapi saya tetap saja merasa takut. Aneh, ya? Hehe.. Hari sudah mulai siang. Nasi goreng tidak enak buatanku juga sudah hampir habis. Saatnya bersiap-siap untuk mengajar. Dan saya harus segera minta maaf padanya. Setidaknya, kalau dia tanya, “kenapa?” Saya sudah mengantongi jawaban, “Karena saya ikut marah saat kamu marah.” Bukankah begitu? Happy Monday then...
READ MORE - Curnin; Curhat Senin

Read Comments

Antologi: Ramadhan di Rantau



Ini dia antologiku yang kedua. Judulnya Ramadhan di Rantau. Di dalamnya ada kisah-kisah singkat yang pastinya akan membuat kita begitu mengkhidmati Bulan Ramadhan, dan juga akan kembali merindukannya. Hmm... Gado-gado pokoknya dalamnya. Bisa order ke Penerbit Harfeey, atau klik saja Facebook Badge saya. Selamat merindukan kembali Ramadhan! J
READ MORE - Antologi: Ramadhan di Rantau

Read Comments

Lomba Cerpen Tahunan Writing Revolution


DL: 31 Desember 2012
*25 Cerpen Nominator Dibukukan.
TERBUKA UNTUK UMUM DAN ANGGOTA SEKOLAH MENULIS CERPEN ONLINE (SMCO)
TEMA:
§  Seputar dunia remaja, lokalitas, masyarat urban (perkotaan), relegius, spiritual, misteri, romantis, fantasi, science fiction, dan sebagainya.
§  Peserta boleh memilih salah satu tema di atas.
§  Panitia bisa langsung menganulir naskah peserta yang berisikan tindakan asusila, cabul, sadisme, kekerasan yang berlebihan terhadap anak dan wanita, merendahkan atau menghina keyakinan/agama/suku/daerah tertentu, dan yang tidak melengkapi persyaratannya (baca poin selanjutnya).
PESERTA:
Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, penulis pemula, penulis senior, dan siapa saja boleh ikutan, tapi dengan ketentuan khusus (baca poin selanjutnya).
SYARAT PENULISAN:
1.       Jumlah 4-6 halaman, spasi ganda (2), jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kerta A4.
2.       Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm atau 1,18 inci), beri nomor halaman.
3.       Kesesuaian dengan tema lomba dan tidak mengandung ponografi dan kekerasan, serta tidak menyinggung SARA.
4.       Biodata narasi sekitar 100-200 kata dan Mencantumkan Nomor ANGGOTA SMCO WRITING REVOLUTION (bagi anggota SMCO) di bagian biodata yang ditulis di akhir cerpennya atau bukti transfer registrasi bagi peserta umum. Jika tidak ada, cerpennya dinyatakan GUGUR.
5.       Kirim naskah cerpen ke alamat email: LombaWR@gmail.com (dengan menulis di judul/subjek email: LMC 2012 - Judul Cerpen)
6.       Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 cerpen terbaiknya. 
KETENTUAN PESERTA:
§  Gratis untuk Anggota SMCO.
§  Peserta Umum (bukan anggota SMCO) membayar uang registrasi Rp 35.000,- nanti akan mendapatkan 1 eksemplar buku Antologi Pemenang LMC 2012 (biaya ini sudah termasuk ongkos kirim). Cara pembayaran registrasi lomba bisa dilihat di bagian bawah informasi lomba ini. 
KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas.
2. Kreativitas pengolahan ide.
3. Kedalaman pesan.
4. Keindahan bahasa, kaidah penulisan dan kelengkapan naskah.
PENGUMUMAN PEMENANG:
Pengumuman 25 Nominator 31 Januari 2013, Pengumuman Pemenang 15 Februari 2013.
HADIAH:
§  Juara I : Rp 2.000.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara II : Rp 1.000.000,-(ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara III : Rp 750.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara Harapan I : Rp 300.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara Harapan II : Rp 200.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
KETENTUAN MENGIKAT
1.       Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
2.       Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
3.       DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat)atau mengikuti lomba sejenis atau telah dimuat di koran/majalah.
4.       HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAK untuk MEMPUBLIKASIKANNYA (membukukkannya).
Info Lengkap klik: www.writing-revolution.blogspot.com  

READ MORE - Lomba Cerpen Tahunan Writing Revolution

Read Comments

Donat Cabai

Donat Cabai
Oleh: Fulki Ilmi

Tidak jauh berbeda dengan hari ini, aku lima tahun lalu adalah sosok pendiam, tidak  menonjolkan diri, dan kutu buku. Saat semua temanku sedang dalam puncak hormon pubertas dan asyik-asyiknya menyelami lautan remaja, aku lebih suka membaca buku. Mereka karaoke, aku mengerjakan kumpulan soal fisika.
Aku bicara seperlunya. Tidak pernah nongkrong sepulang sekolah, tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatku tidak banyak gaya. Mungkin aku orang yang membosankan bagi kebanyakan teman sekelasku, yang notabene adalah kaum hedonis kaya. Kadang aku merasa tidak diterima di lingkungan sekolah. Aku minder.
15 November 2007. Hari itu masih kuingat dengan baik. Jam terakhir adalah mata pelajaran Biologi. Kebetulan gurunya adalah Bu Liza, wali kelasku di kelas XI IPA 1. Hari itu ada ulangan harian. Seperti biasa, malam harinya aku belajar, berkutat dengan istilah biologi yang menyita kapasitas memori.
“Hari ini ulangan. Yang kedapatan mencontek teman, nilainya minus satu. Yang mencontek buku, minus dua.” Bu Liza memberikan intruksi.
Aku mengerjakannya dalam damai. Namun menjelang menit-menit terakhir, teman sebangkuku, Tian namanya, mulai menginjak-injak sepatuku. Jarinya membentuk kode-kode. Ia menanyakan jawaban padaku. Aku mengintip Bu Liza yang nampak asyik di meja guru. Yakin Beliau tidak melihat, aku memberi tahu Tian. Hal itu terjadi berulang-ulang.
Sepuluh menit lagi bel berbunyi. Bu Liza meminta kami untuk mengumpulkan hasil ulangan. Setelah kertas ulangan terkumpul, bukannya menutup pembelajaran, Beliau malah memisahkan beberapa kertas ulangan.
“Prisnia minus satu. Tian minus satu. Fulki minus satu. Fajar minus satu. Arta minus satu. Fata minus dua.” Ujar beliau sambil mencoret-coret kertas ulangan yang dipisahkan.
“Yang barusan disebutkan namanya, ke depan!”
Aku berpandangan dengan Tian. Dia terlihat pucat. Aku bersama lima temanku maju ke depan kelas, diiringi dengan cemoohan teman-temanku.
“Kalian tahu kenapa diminta ke depan?” Bu Liza menatap kami dengan pandangan kecewa. Kami semua menunduk. Aku merasa malu sekali, gemetar. Keringat turun membasahi jilbabku. Bu Liza kemudian menasehati kami, sekaligus mempermalukan kami, betapa tidak baiknya menjadi pelajar yang tidak jujur.
“Fata, kamu nyontek buku, jadi dapat minus dua. Yang lain bagaimana? Fulki, kamu nyontek atau kasih contekan?”
“Saya kasih contekan, Bu.” Aku menunduk, menatap sepatu.
“Yang lain bagaimana? Prisnia, Tian, Fajar, Arta?”
“Saya nyontek sama Fulki.” Tian menjawab
“Saya juga.” Prisnia menimpali.
Tanpa diduga, semua pencontek itu menuduh saya. Saya merasa tersudut. Apa karena saya tidak berteman baik dengan mereka, lalu mereka menyalahkan saya?
“Jadi semuanya nyontek sama Fulki?” pertanyaan Bu Liza ini disusul oleh anggukan mereka.
Aku gemetar, merasa benci sekali pada mereka  yang menuduhku. Teman-temanku dipersilakan untuk duduk. Sedang aku masih harus berdiri, sendirian, mendapatkan perpanjangan ceramah.
“Kamu mau merusak pelajaran saya, Fulki?”
Air mataku sudah siap merebak. Aku ingin menjelaskan bahwa yang kuberi tahu hanya Tian. Tapi suaraku hilang entah kemana.
“Kamu tahu gak kesalahan kamu yang lebih besar dari sekedar memberikan jawaban?” aku terdiam.
“Kesalahan kamu adalah... Kenapa kamu ulang tahun hari ini, Sayang...” Kata Bu Liza, sambil memelukku erat sekali. Semua kawanku, yang ternyata sudah bersekongkol menertawakanku yang menangis di depan kelas. Mereka menyanyikan lagu happy birthday, yang tentu saja membuat tangisanku semakin menjadi.
Tian, si tersangka utama, maju dan memelukku. Ia membawa donat bertabur cokelat yang diatasnya di simpan lilin kecil, bertuliskan angka 17.
“Makan dong...” katanya sambil tersenyum.
Aku menggigit donat itu, lalu berteriak protes. Dalamnya penuh dengan cabai! Ternyata, walaupun aku tidak bergaul baik dengan mereka, mereka tetap sayang padaku.
***

READ MORE - Donat Cabai

Read Comments
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men