Curnin; Curhat Senin



                Saya tidak paham, kadang sudah berusaha untuk memahami, tapi tetap tak ketemu juga kenapa. Hati itu rasanya lebih sulit dijangkau daripada orang itu sendiri. Hmm, ceritanya saya lagi menggalau. Atau mungkin marah, saya tidak tahu. Yang jelas harus ada sesuatu yang harus saya luapkan di sini.
                Hari ini hari pertama saya mengajar lagi, setelah libur panjang puasa dan Idul Fitri, tiga minggu lamanya. Saya merasa sedikit malas untuk memulai aktivitas lagi. Tapi semua kemalasan itu biasanya hilang saat sudah kutemui wajah-wajah polos yang sering membuatku tertawa itu.
                Ada apa, ya, dengan hari kemarin? Rasanya tidak ada yang salah. Tapi dia, seseorang itu, tiba-tiba saja marah. Menghilang. Dan itu membuatku gusar. Mau minta maaf, saya tidak mengerti apa salah saya. Awalnya saya mencoba untuk minta maaf. Lalu dia tanya, “memang kamu salah apa?”dan voila, tentu saja saya tidak bisa menjawab.
Idealnya, mungkin, saya harus sabar, dan menunggu dia berhenti manyun, lalu pelan-pelan berkata, “I don’t know why. Would you tell me?” Biasanya dia akan berbaik hati untuk menjelaskan jika marahnya sudah mereda.  Dan, rata-rata aku memang bisa mengerti mengapa dia bisa marah. Tapi Ojaaaan, ternyata teori tinggal teori. Faktanya kemarin malam saya malah ikut marah. Hmm, benar-benar tidak dewasa.
Kadang saya ingin mengalah, tapi biasanya, ujung-ujungnya, saya tidak berhasil. Dia-lah yang akan mengalah. Mungkin perbedaan umur diantara kami yang cukup jauh juga berpengaruh. Saya cenderung sensitif,meledak-ledak, dan biasanya tidak mau diskusi kalau sudah marah—diam—adalah bagian favorit saya kalau sedang marah.
Tapi, hei, tahukah kamu. Saya paling takut kalau dia marah. Dia tidak akan kasar, membentak, memaki. Dia bahkan tidak mendiamkan saya seperti saya mendiamkannya. Dia masih menghubungi saya, tapi saya tetap saja merasa takut. Aneh, ya? Hehe.. Hari sudah mulai siang. Nasi goreng tidak enak buatanku juga sudah hampir habis. Saatnya bersiap-siap untuk mengajar. Dan saya harus segera minta maaf padanya. Setidaknya, kalau dia tanya, “kenapa?” Saya sudah mengantongi jawaban, “Karena saya ikut marah saat kamu marah.” Bukankah begitu? Happy Monday then...
READ MORE - Curnin; Curhat Senin

Read Comments

Antologi: Ramadhan di Rantau



Ini dia antologiku yang kedua. Judulnya Ramadhan di Rantau. Di dalamnya ada kisah-kisah singkat yang pastinya akan membuat kita begitu mengkhidmati Bulan Ramadhan, dan juga akan kembali merindukannya. Hmm... Gado-gado pokoknya dalamnya. Bisa order ke Penerbit Harfeey, atau klik saja Facebook Badge saya. Selamat merindukan kembali Ramadhan! J
READ MORE - Antologi: Ramadhan di Rantau

Read Comments

Lomba Cerpen Tahunan Writing Revolution


DL: 31 Desember 2012
*25 Cerpen Nominator Dibukukan.
TERBUKA UNTUK UMUM DAN ANGGOTA SEKOLAH MENULIS CERPEN ONLINE (SMCO)
TEMA:
§  Seputar dunia remaja, lokalitas, masyarat urban (perkotaan), relegius, spiritual, misteri, romantis, fantasi, science fiction, dan sebagainya.
§  Peserta boleh memilih salah satu tema di atas.
§  Panitia bisa langsung menganulir naskah peserta yang berisikan tindakan asusila, cabul, sadisme, kekerasan yang berlebihan terhadap anak dan wanita, merendahkan atau menghina keyakinan/agama/suku/daerah tertentu, dan yang tidak melengkapi persyaratannya (baca poin selanjutnya).
PESERTA:
Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, penulis pemula, penulis senior, dan siapa saja boleh ikutan, tapi dengan ketentuan khusus (baca poin selanjutnya).
SYARAT PENULISAN:
1.       Jumlah 4-6 halaman, spasi ganda (2), jenis huruf Times New Roman font 12, ukuran kerta A4.
2.       Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm atau 1,18 inci), beri nomor halaman.
3.       Kesesuaian dengan tema lomba dan tidak mengandung ponografi dan kekerasan, serta tidak menyinggung SARA.
4.       Biodata narasi sekitar 100-200 kata dan Mencantumkan Nomor ANGGOTA SMCO WRITING REVOLUTION (bagi anggota SMCO) di bagian biodata yang ditulis di akhir cerpennya atau bukti transfer registrasi bagi peserta umum. Jika tidak ada, cerpennya dinyatakan GUGUR.
5.       Kirim naskah cerpen ke alamat email: LombaWR@gmail.com (dengan menulis di judul/subjek email: LMC 2012 - Judul Cerpen)
6.       Setiap peserta hanya boleh mengirim 1 cerpen terbaiknya. 
KETENTUAN PESERTA:
§  Gratis untuk Anggota SMCO.
§  Peserta Umum (bukan anggota SMCO) membayar uang registrasi Rp 35.000,- nanti akan mendapatkan 1 eksemplar buku Antologi Pemenang LMC 2012 (biaya ini sudah termasuk ongkos kirim). Cara pembayaran registrasi lomba bisa dilihat di bagian bawah informasi lomba ini. 
KRITERIA PENILAIAN
1. Orisinalitas.
2. Kreativitas pengolahan ide.
3. Kedalaman pesan.
4. Keindahan bahasa, kaidah penulisan dan kelengkapan naskah.
PENGUMUMAN PEMENANG:
Pengumuman 25 Nominator 31 Januari 2013, Pengumuman Pemenang 15 Februari 2013.
HADIAH:
§  Juara I : Rp 2.000.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara II : Rp 1.000.000,-(ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara III : Rp 750.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara Harapan I : Rp 300.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
§  Juara Harapan II : Rp 200.000,- (ditambah Buku Antologi Cerpen Pemenang dan sertifikat penghargaan).
KETENTUAN MENGIKAT
1.       Keputusan DEWAN JURI tidak bisa diganggu gugat.
2.       Panitia tidak MELAYANI SURAT-MENYURAT.
3.       DEWAN JURI berhak membatalkan keputusannya, jika di kemudian hari diketahui karya pemenang lomba melanggar karya cipta orang lain (plagiat)atau mengikuti lomba sejenis atau telah dimuat di koran/majalah.
4.       HAK CIPTA tetap ada pada penulis, sedangkan PANITIA memiliki HAK untuk MEMPUBLIKASIKANNYA (membukukkannya).
Info Lengkap klik: www.writing-revolution.blogspot.com  

READ MORE - Lomba Cerpen Tahunan Writing Revolution

Read Comments

Donat Cabai

Donat Cabai
Oleh: Fulki Ilmi

Tidak jauh berbeda dengan hari ini, aku lima tahun lalu adalah sosok pendiam, tidak  menonjolkan diri, dan kutu buku. Saat semua temanku sedang dalam puncak hormon pubertas dan asyik-asyiknya menyelami lautan remaja, aku lebih suka membaca buku. Mereka karaoke, aku mengerjakan kumpulan soal fisika.
Aku bicara seperlunya. Tidak pernah nongkrong sepulang sekolah, tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun. Kondisi ekonomi yang pas-pasan membuatku tidak banyak gaya. Mungkin aku orang yang membosankan bagi kebanyakan teman sekelasku, yang notabene adalah kaum hedonis kaya. Kadang aku merasa tidak diterima di lingkungan sekolah. Aku minder.
15 November 2007. Hari itu masih kuingat dengan baik. Jam terakhir adalah mata pelajaran Biologi. Kebetulan gurunya adalah Bu Liza, wali kelasku di kelas XI IPA 1. Hari itu ada ulangan harian. Seperti biasa, malam harinya aku belajar, berkutat dengan istilah biologi yang menyita kapasitas memori.
“Hari ini ulangan. Yang kedapatan mencontek teman, nilainya minus satu. Yang mencontek buku, minus dua.” Bu Liza memberikan intruksi.
Aku mengerjakannya dalam damai. Namun menjelang menit-menit terakhir, teman sebangkuku, Tian namanya, mulai menginjak-injak sepatuku. Jarinya membentuk kode-kode. Ia menanyakan jawaban padaku. Aku mengintip Bu Liza yang nampak asyik di meja guru. Yakin Beliau tidak melihat, aku memberi tahu Tian. Hal itu terjadi berulang-ulang.
Sepuluh menit lagi bel berbunyi. Bu Liza meminta kami untuk mengumpulkan hasil ulangan. Setelah kertas ulangan terkumpul, bukannya menutup pembelajaran, Beliau malah memisahkan beberapa kertas ulangan.
“Prisnia minus satu. Tian minus satu. Fulki minus satu. Fajar minus satu. Arta minus satu. Fata minus dua.” Ujar beliau sambil mencoret-coret kertas ulangan yang dipisahkan.
“Yang barusan disebutkan namanya, ke depan!”
Aku berpandangan dengan Tian. Dia terlihat pucat. Aku bersama lima temanku maju ke depan kelas, diiringi dengan cemoohan teman-temanku.
“Kalian tahu kenapa diminta ke depan?” Bu Liza menatap kami dengan pandangan kecewa. Kami semua menunduk. Aku merasa malu sekali, gemetar. Keringat turun membasahi jilbabku. Bu Liza kemudian menasehati kami, sekaligus mempermalukan kami, betapa tidak baiknya menjadi pelajar yang tidak jujur.
“Fata, kamu nyontek buku, jadi dapat minus dua. Yang lain bagaimana? Fulki, kamu nyontek atau kasih contekan?”
“Saya kasih contekan, Bu.” Aku menunduk, menatap sepatu.
“Yang lain bagaimana? Prisnia, Tian, Fajar, Arta?”
“Saya nyontek sama Fulki.” Tian menjawab
“Saya juga.” Prisnia menimpali.
Tanpa diduga, semua pencontek itu menuduh saya. Saya merasa tersudut. Apa karena saya tidak berteman baik dengan mereka, lalu mereka menyalahkan saya?
“Jadi semuanya nyontek sama Fulki?” pertanyaan Bu Liza ini disusul oleh anggukan mereka.
Aku gemetar, merasa benci sekali pada mereka  yang menuduhku. Teman-temanku dipersilakan untuk duduk. Sedang aku masih harus berdiri, sendirian, mendapatkan perpanjangan ceramah.
“Kamu mau merusak pelajaran saya, Fulki?”
Air mataku sudah siap merebak. Aku ingin menjelaskan bahwa yang kuberi tahu hanya Tian. Tapi suaraku hilang entah kemana.
“Kamu tahu gak kesalahan kamu yang lebih besar dari sekedar memberikan jawaban?” aku terdiam.
“Kesalahan kamu adalah... Kenapa kamu ulang tahun hari ini, Sayang...” Kata Bu Liza, sambil memelukku erat sekali. Semua kawanku, yang ternyata sudah bersekongkol menertawakanku yang menangis di depan kelas. Mereka menyanyikan lagu happy birthday, yang tentu saja membuat tangisanku semakin menjadi.
Tian, si tersangka utama, maju dan memelukku. Ia membawa donat bertabur cokelat yang diatasnya di simpan lilin kecil, bertuliskan angka 17.
“Makan dong...” katanya sambil tersenyum.
Aku menggigit donat itu, lalu berteriak protes. Dalamnya penuh dengan cabai! Ternyata, walaupun aku tidak bergaul baik dengan mereka, mereka tetap sayang padaku.
***

READ MORE - Donat Cabai

Read Comments

Yang Tersisa


Note: Ini FTS lomba bertema aku dan tulisanku yang tidak berhasil lolos untuk dibukukan. Daripada diendapkan di leptop mending saya upload di sini. Happy Reading :)

Mimpiku menyusut.  Bak raksasa yang mengerdil. Gelisah yang dikutuk waktu begitu mengganggu. Mataku bersitatap dengan beningnya obsidian. Aku berkaca, getir. Tak kutemukan keutuhan di sana. Tak lagi kudapati rasa genap yang selama ini kuabaikan. Bisakah aku melanjutkan hidup?
Di tempat yang seharusnya melekat kaki kiri, sekarang  diisi gumpalan udara. Besi menopang sisi kiri tubuhku.  Ah, Tuhan. Lagi-lagi kurasakan sejuta mimpiku mengerdil, menyusut. Sampai lesap. Sampai lumat.
Apa yang terisa kini?
*
Di sanalah kerajaan Tuhan bertakhta. Singgasana tanpa kiap. Tangan-Nya leluasa menggenggam, pun membuang. Kini aku merasa terabaikan. Masih ingatkah kau padaku, Tuhan?
“Jihan... Aku dapat juara satu. Nomor yang seharusnya selalu menjadi...” perkataan Mila ditelan udara.
Milikku. Nomor satu itu harusnya masih menjadi milikku!
Mungkin bibirku bermaksud mencipta senyum.  Namun otak dan hati terlalu sibuk, berebut memilah titah. Antara ingin mencoba kuat atau hanyut dalam sungai kesedihan. Sungai itu terlalu besar, tak mudah untuk diabaikan. Namun egoku juga menggunung. Tak sudi aku merajuk, apalagi di hadapan seorang Mila.
“Selamat.” Serak, sarat ambigu. Senangkah kamu? Aku tak akan pernah lagi mengalahkanmu dalam berenang. Selamanya.
Mila menatap penuh arti padaku. Sebisa  mungkin dihindarkan matanya dari celana panjangku, yang  kosong satu. Aku menebak-nebak kemana pikiran Mila dilarikan. Bertopengkah wajah sedihmu? Bersorakkah hati kecilmu?
Dua tiga detik mengkristal. Menghisap lamat-lamat udara tipis ruangan, mengantarkannya menuju titik terendah. Aku siap memeluk hipotermia jika terkunci di situasi seperti ini beberapa detik lagi.
Kenapa kamu tidak segera pulang, Mila?
*
Benda kotak yang lebih sering kugunakan untuk merampungkan makalah, membaca komik online, atau mengunduh film, kini memiliki fungsi baru. Jemariku mengetik sesuatu di sana. Kutumpahkan segala kabut yang menghitami hariku.
Kabutku mulai terurai di titik sana. Di panggangan siang yang menghanguskan gairah. Aku berdiri di tepian jalan.  Alunan musik mengalun pelan dari earphone yang kusematkan. Lalu tiba-tiba memori membeku. Sekon berikutnya pandanganku tertuju pada satu titik. Aroma kematian terendus dari tempatku berdiri kini.
Motor dan Bus itu. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi sebelumnya. Yang kutahu, kini dua kendaraan bermesin itu akan segera bertabrakan. Aku panik, berteriak mengingatkan, sambil memejamkan mata. Pengguna motor itu cukup cekatan, ia membanting arah ke kiri. Menghindari bus. Ya, tepat ke arahku.
Kini orang lain yang berteriak. Motor itu terpelanting ke arahku, si pengguna jalan yang  sedang diam. Tidak puas menindih, motor itu juga menyeretku hingga beberapa meter sebelum akhirnya benar-benar berhenti.
Kesadaranku timbul tenggelam.
Bus terus berjalan tanpa menoleh.
Si pengguna motor tak tergores sedikitpun.
Timingnya saat melompat, patut dianugerahi piala.
Sedang,
Kaki si pengguna jalan yang tidak tahu apa-apa, kini hancur terseret-seret...
Berdarah-darah...
*
                Ah, kenapa dia datang lagi? Begitu gembira dengan kakinya yang lengkap. Kulitnya yang gelap akibat terlalu sering bermain matahari dan kaporit. Ia begitu membuatku iri. Juara apalagi yang akan kau pamerkan?
“Baca.” Mila tersenyum.
Aku menoleh malas. Jadi, sekarang dia diliput majalah? Benar-benar prestasi!
*
                Beberapa buah lagi, maka genap menjadi seratus. Tulisanku menyebar. Mereka lahir satu demi satu. Hinggap di majalah, koran, buku antologi. Mulai dari bacaan anak-anak, remaja, dan dewasa. Mila yang mulai mengirimkan tulisan-tulisan isengku ke media, tanpa aku tahu.
Terima kasih. Kini aku bebas berlarian di dunia imaji. Walau dengan satu kaki, kini semua profesi bisa kulakoni. Dokter, artis, koruptor, burung yang terluka, koki, bahkan peri jahat penunggu hutan. Mimpiku mewujud kembali.
Dan, meski kaki tak lagi sepasang, kini aku masih bisa menjadi perenang. Bila kini ada yang bertanya, apa yang tersisa dari seorang Jihan? Aku bisa menjawab: tekad, semangat, dan tangan Tuhan yang tak pernah diam.
***
Fulki Ilmi, dipilihnya sebagai nama pena sejak mulai gemar tulis-menulis. Penulis yang lahir di Bandung 21 tahun yang lalu, kini mulai mencari celah-celah di dunia kepenulisan. Beberapa kali sempat merasa tak mempunyai kesempatan untuk mengejar apa yang diinginkan, but I ever heard, not getting what I want is a wonderful stroke of luck.
Note: Ini FTS lomba bertema aku dan tulisanku yang tidak berhasil lolos untuk dibukukan. Daripada diendapkan di leptop mending saya upload di sini. Happy Reading :)

Mimpiku menyusut.  Bak raksasa yang mengerdil. Gelisah yang dikutuk waktu begitu mengganggu. Mataku bersitatap dengan beningnya obsidian. Aku berkaca, getir. Tak kutemukan keutuhan di sana. Tak lagi kudapati rasa genap yang selama ini kuabaikan. Bisakah aku melanjutkan hidup?
Di tempat yang seharusnya melekat kaki kiri, sekarang  diisi gumpalan udara. Besi menopang sisi kiri tubuhku.  Ah, Tuhan. Lagi-lagi kurasakan sejuta mimpiku mengerdil, menyusut. Sampai lesap. Sampai lumat.
Apa yang terisa kini?
*
Di sanalah kerajaan Tuhan bertakhta. Singgasana tanpa kiap. Tangan-Nya leluasa menggenggam, pun membuang. Kini aku merasa terabaikan. Masih ingatkah kau padaku, Tuhan?
“Jihan... Aku dapat juara satu. Nomor yang seharusnya selalu menjadi...” perkataan Mila ditelan udara.
Milikku. Nomor satu itu harusnya masih menjadi milikku!
Mungkin bibirku bermaksud mencipta senyum.  Namun otak dan hati terlalu sibuk, berebut memilah titah. Antara ingin mencoba kuat atau hanyut dalam sungai kesedihan. Sungai itu terlalu besar, tak mudah untuk diabaikan. Namun egoku juga menggunung. Tak sudi aku merajuk, apalagi di hadapan seorang Mila.
“Selamat.” Serak, sarat ambigu. Senangkah kamu? Aku tak akan pernah lagi mengalahkanmu dalam berenang. Selamanya.
Mila menatap penuh arti padaku. Sebisa  mungkin dihindarkan matanya dari celana panjangku, yang  kosong satu. Aku menebak-nebak kemana pikiran Mila dilarikan. Bertopengkah wajah sedihmu? Bersorakkah hati kecilmu?
Dua tiga detik mengkristal. Menghisap lamat-lamat udara tipis ruangan, mengantarkannya menuju titik terendah. Aku siap memeluk hipotermia jika terkunci di situasi seperti ini beberapa detik lagi.
Kenapa kamu tidak segera pulang, Mila?
*
Benda kotak yang lebih sering kugunakan untuk merampungkan makalah, membaca komik online, atau mengunduh film, kini memiliki fungsi baru. Jemariku mengetik sesuatu di sana. Kutumpahkan segala kabut yang menghitami hariku.
Kabutku mulai terurai di titik sana. Di panggangan siang yang menghanguskan gairah. Aku berdiri di tepian jalan.  Alunan musik mengalun pelan dari earphone yang kusematkan. Lalu tiba-tiba memori membeku. Sekon berikutnya pandanganku tertuju pada satu titik. Aroma kematian terendus dari tempatku berdiri kini.
Motor dan Bus itu. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi sebelumnya. Yang kutahu, kini dua kendaraan bermesin itu akan segera bertabrakan. Aku panik, berteriak mengingatkan, sambil memejamkan mata. Pengguna motor itu cukup cekatan, ia membanting arah ke kiri. Menghindari bus. Ya, tepat ke arahku.
Kini orang lain yang berteriak. Motor itu terpelanting ke arahku, si pengguna jalan yang  sedang diam. Tidak puas menindih, motor itu juga menyeretku hingga beberapa meter sebelum akhirnya benar-benar berhenti.
Kesadaranku timbul tenggelam.
Bus terus berjalan tanpa menoleh.
Si pengguna motor tak tergores sedikitpun.
Timingnya saat melompat, patut dianugerahi piala.
Sedang,
Kaki si pengguna jalan yang tidak tahu apa-apa, kini hancur terseret-seret...
Berdarah-darah...
*
                Ah, kenapa dia datang lagi? Begitu gembira dengan kakinya yang lengkap. Kulitnya yang gelap akibat terlalu sering bermain matahari dan kaporit. Ia begitu membuatku iri. Juara apalagi yang akan kau pamerkan?
“Baca.” Mila tersenyum.
Aku menoleh malas. Jadi, sekarang dia diliput majalah? Benar-benar prestasi!
*
                Beberapa buah lagi, maka genap menjadi seratus. Tulisanku menyebar. Mereka lahir satu demi satu. Hinggap di majalah, koran, buku antologi. Mulai dari bacaan anak-anak, remaja, dan dewasa. Mila yang mulai mengirimkan tulisan-tulisan isengku ke media, tanpa aku tahu.
Terima kasih. Kini aku bebas berlarian di dunia imaji. Walau dengan satu kaki, kini semua profesi bisa kulakoni. Dokter, artis, koruptor, burung yang terluka, koki, bahkan peri jahat penunggu hutan. Mimpiku mewujud kembali.
Dan, meski kaki tak lagi sepasang, kini aku masih bisa menjadi perenang. Bila kini ada yang bertanya, apa yang tersisa dari seorang Jihan? Aku bisa menjawab: tekad, semangat, dan tangan Tuhan yang tak pernah diam.
***
Fulki Ilmi, dipilihnya sebagai nama pena sejak mulai gemar tulis-menulis. Penulis yang lahir di Bandung 21 tahun yang lalu, kini mulai mencari celah-celah di dunia kepenulisan. Beberapa kali sempat merasa tak mempunyai kesempatan untuk mengejar apa yang diinginkan, but I ever heard, not getting what I want is a wonderful stroke of luck.

READ MORE - Yang Tersisa

Read Comments

Anak, eh, Antologi Pertamaku

Tada... Senangnya bisa punya buku sendiri... Apalagi yang diimpikan seorang penulis selain karyanya bisa dibaca oleh banyak orang? Awalnya dari sebuah lomba yang diadakan Sekolah Menulis Online yang saya ikuti, temanya adalah mengenai kekonyolan diri sendiri. Hmm, saya langsung berpikir. Apakah mungkin orang yang baik hati, dewasa, dan serba tertatur macam saya ini mempunyai kekonyolan dalam hidup? (Langsung digebukin satu kampung). Hehehe... Intinya saya tidak kepikiran untuk menulis apa.
Sampai Dewi Fortuna muncul secara tidak sengaja. Siang itu, di tempat duduk batu tempatku biasa nangkring menunggu jam mengajar—Ceritanya lagi PPL, Gan—Seperti biasa kami berbagi cerita dan tertawa-tawa bersama.
Aku yang pendiam dan pemalu ini mesem-mesem aja dengerin teman-teman, lalu entah apa awalnya, aku teringat sebuah cerita konyol temanku yang berhubugan dengan tilang-menilang. Teman-temanku berhasil tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Lalu salah satu teman saya yang juga ikut kelas menulis di Sekolah Cerpen Online tadi, tiba-tiba nyeletuk, “Teh Siti, kenapa itu cerita yang barusan gak diikutkan lomba aja, yang temanya gokil-gokil itu, lho.”
Adakadabra, tiba-tiba aku berteriak semangat. “Yeah! Itu dia!” Hehehe... Sedikit lebay tapi ternyata hasilnya memang memuaskan. Ceritaku itu setelah dilombakan ternyata layak menjadi salah satu kontributor yang dibukukan. Dan ini jadi anotologi pertama saya yang mendarat dengan selamat di tangan. Aih, senangnya...

 

(Kalau ada yang mau order boleh, atau kalau mampir di Gramedia, langsung cabut aja, ya!) 
READ MORE - Anak, eh, Antologi Pertamaku

Read Comments
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men