PIC : SIBLING RIVALRY




Bismillah.
Berbagi ah. Kuy, kita mulai dari apa itu PIC? Apa itu Sibling Rivalry?
Jadi ceritanya ini Ummi Sagara—si guru literasi tapi malesan nulis ini—sudah masuk tahun ketiga ikut grup CERIA, grup whatsap yang isinya ibu-ibu, kegiatannya berbagi seputar ibu dan anak. Namanya aja grup ceria, kependekan dari “CERita Ibu dan Anak”.
Singkatnya, itu grup untuk berbagi. Isinya komplit, ada Dokter (Walaupun Teh Andin selalu bilang, saya mahasiswa kedokteran, masih Koas, belum dokter) tapi dengan baiknya selalu ngasih diagnosa dan nasehat-nasehat medis saat kami meminta, ada IRT, guru, pekerja kantoran, campur sari. Alhamdulillah, anggota grup ini adalah Ibu-ibu melek jaman now, yang enak banget untuk sharing tentang anak, sholihah pula. Kebanyakan selalu membahas dari sisi islaminya. Lope lope banget deh saya pokoknya.
Setiap bulan, ada yang namanya PIC—Pojok Ilmu Ceria. Biasanya ada grup khusus yang akan dibuat selama diskusi saja, lalu dibubarkan saat diskusinya selesai. Dan pengisi PIC ini biasanya para ahli di bidangnya. Syarat anggota yang mau ikut grup kulwap itu cuma satu: buat catatan, atau gambar, atau apapun tentang kulwap itu dan share di sosmed.
Dan, saya adalah anggota yang bedegong. Jarang nanya, jarang ngeresume. Cuma jadi silent reader, say thanks when discussing is over, then out. Tara ngerjakeun tugasna! Maapkan Baim Ya Allah... untung saya gak di kick out dari grup ceria.
Ehm! Oke. Sekian tentang PIC. Sekarang lanjut ke isi dari PIC-nya. Apa itu sibling rivalry?
Sibling rivalry adalah sebuah kejadian yang tidak diinginkan—ya iyalah—di mana terjadi perkelahian, percekcokan, antara adik dan kakak karena berebut sesuatu (mostly toys in my case). Sibling rivalry ini sejatinya memang pewarna yang paling dominan terjadi di antara kakak beradik.
Sebetulnya, saya seharusnya paham. Sagara (3,5y) dan Agra (1,5y) adalah dua balita yang jaraknya deketan. Cowok pula. Peluang sibling rivalry harus saya akui memang sangat kuat. Jangankan si duo sholih ummi itu, saya sendiri masih ingat kelakuan-kelakuan sibling rivalry saya sama adik. Padahal kami perempuan, dan terpaut selisih delapan tahun. (hey, sista, do you remember when you pulling out all of my stuffs at my cupboard everyyyy time you got angry to me? Semoga kamu ingat karena itu sangat menakutkan, wkwkw). Dan aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu padanya, paling hanya jurus kicking you far away from my sight—or.. maybe... worse? hahahha.
Lah ummi sama ateu-nya aja macam itu kalau udah berantem. Gimana anak-anak? Menurut narsum, dan yang sering saya baca juga adalah, jangan selalu menyalahkan kakak. Karena kakak lebih besar, bukan berarti kakak harus selalu mengalah. Saya mulai menerapkan hal itu. Ketika adiknya salah, saya salahkan.
Saya masih ingat tiga tahun silam, ketika pertama kalinya saya membawa ade ke rumah setelah melahirkan di rumah sakit. Selama hamil saya sudah memperkenalkan ade, Cuma karena saat itu usia Aa baru dua tahun, saya yakin dia belum ngerti.
Ketika Aa menjemput kami ke rumah sakit, ia terlihat amat senang. Pun tidak protes saat terlihat saya menggendong Ade. Masalah baru muncul ketika kami sampai rumah,Ade nangis minta disusui. Aa yang baru selesai sapih sekitar lima bulan, terlihat begitu “shock” ketika saya menyusui adiknya. Dia mulai marah, merasa umminya direbut “orang asing.” Kata Narsumnya kemarin, ketika si Kakak punya adik, itu buat dia sama aja rasanya kayak ibu lihat suami pulang bawa istri baru ke rumah. Jleb! Apalagi istri barunya itu langsung jadi primadona, lebih diperhatikan oleh orang sekitar. Double jleb!
“Aa, aduh Aa udah punya Ade ya sekarang.”
“wah, ade nguap tuh, lucu banget.”
“Rambutnya bagus banget, ih bibirnya mungil sekali,” dan lain sebagainya.
Dalam satu hari saja, keprimadonaan Aa menguap, tergantikan adiknya. Wajar toh kalau dia shock?
Akhirnya saya meminta orang-orang di rumah untuk tidak terlalu “memperhatikan” Ade. Kalau Ade dan Aa sama-sama nangis, saya dahulukan dulu Aa. Biar Adenya nangis dulu sebentar. Ketika Ade nangis, saya selalu melibatkan Aa.
“Aa, sini, Ade nangis. Mau main sama Aa.” Perlahan-lahan Aa mulai merasa dibutuhkan.
Ade, jep, jep. Aa mah aya, De.” Lucu sekali ketika Aa menenangkan Ade.
Tapi, itu dulu. Ketika si Adik baru bisa merem melek dan mimi. Sekarang ketika adiknya sudah sama-sama bisa berlari, sama-sama bisa main mobil, dan masing-masing punya keinginan dengan kadar keegoisan yang sama—saya kelabakan.
Sekarang sih sudah mulai kelihatan, Ade yang lebih sering ngalah. Dia tampak takut kalau sedang memainkan mainan Aa, karena Aa selalu spontan teriak “Ade, itu punya Aa!” Dan Ade biasanya langsung nangis sambil melemparkan mainan tersebut.
Intinya, sibling rivalry ini pasti jadi rutinitas. PR kita sebagai orang tua, adalah selalu berusaha untuk seadil mungkin memperlakukan anak-anak. Anak perlu diberi tahu kapan mereka harus mengalah, berbagi, dan kapan mereka perlu mempertahankan hak mereka karena selalu mengalah juga tidak baik. Kita tetap harus menanamkan pentingnya punya self defense. Kalau sedang asyik memainkan mainan sendiri, ada yang rebut, boleh kok bilang tidak.
Itu dulu yang bisa saya share. Maybe someday saya coret-coret lagi kalau ada PIC ya. Maaf no editing jadi tulisannya amburadul.
Anak baru satu? Saya doakan semoga segera nambah, biar jadi saksi asyiknya sibling rivalry :D
Ummu Sagara
Bandung, 30 Maret 2018
#PojokIlmuCeria
#TugasPICMaret



READ MORE - PIC : SIBLING RIVALRY

Read Comments

Badai Berulang

image taken from wapannuri.com

Bismillah.
.
Hari ini tiba-tiba tangan saya gatel, ingin menulis tentang pernikahan. Saya berantem sama suami. As usual, karena hal-hal kecil.
.
Tidak ada rumah tangga yang tidak pernah berantem. Tidak ada pernikahan flat, senyum sepanjang masa, bahagia setiap hari.
.
Seperti hari ini, daaaaan banyak hari sebelumnya. Tahun ini pernikahan saya menginjak usia lima tahun. Baru mau belajar baca, kalau anak. Sedang rewel-rewelnya, sedang ingin dipenuhi segala inginnya.
.
Rumah tangga adalah badai. Ada campur tangan setan di dalamnya. Kenapa pacaran terasa manis? Karena setan membisikkan dua insan yang berpacaran untuk semakin mesra, semakin intens. Setan amat ridha, Allah tidak.
.
Sedang pernikahan, sebaliknya. Setan berbisik pada sepasang kekasih halal itu untuk saling menjauh, membenci, saling mencari kekurangan. Agar terjadi perpisahan, yang Allah tidak suka.
.
Lantas? harus selalu kita ingat bahwa pernikahan adalah ibadah. Ibadah tidak ada yang mudah. Perlu ilmu, visi misi, pengawasan, evaluasi..... Apakah visi yang diusung hanya pernikahan yang melegalkan perempuan dan laki-laki satu atap? Apakah pernikahan hanya bertujuan untuk memiliki keturunan?
.
Atau apakah salah satu sarana agar mendapat ridha Allah, dan ingin kembali berkumpul si syurgaNya kelak?
.
Surga adalah tempat yang sangat mahal. Tiketnya jelas terbatas. Tanpa kita sadari, mungkin pernikahan ini menjadi salah satu tiket yang akan membukakan pintu surga.
.
Badai-badai biarlah tetap menjadi badai. Pertengkaran biarlah terjadi sebagaimana harusnya. Siapkan hati yang lapang, rasa ikhlas, serta terus berdo'a, semogaAllah memudahkan segalanya.
.
Dear Abi, my lovely husband.. bukankah kita amat keren, karena setiap  berantem tiba-tiba kerasukan hantu bule karena tetiba whatsapan kita menjadi bahasa Inggris? 😂
.
Thank you for being my partner..
I promise you, even im very annoying when im angry.. im always loving you... Lets fix everything and pray Allah taking care our togetherness.
.
Sama kamu, iya sama kamu...
Aku ingin berbagi, belajar, berantem, diem-dieman, sampe komunikasi cuma via whatsap, dan merasakan marah yang meledak-ledak sampai gak bisa ngomong...
.
Hold it tight... Until we're getting old.. ya?

Kapan-kapan lah ya... saya share tentang ilmu-ilmu pernikahan yang sering saya dapet.. sekarang curhat aja dulu :p
READ MORE - Badai Berulang

Read Comments

Outing SDIT 2017_Part II


Ini adalah lanjutan postingan outing Damkar-Galeri sains bagian dua. Bagian satunya bisa di baca disini.
           
Setelah berbasah-basah, kami melanjutkan perjalalan ke Science Galery Sabuga. Di perjalanan, hujan menampar-nampar atap bis. Kami jadi agak kesulitan mencari spot untuk makan. Akhirnya kami jadi makan di bis.
Karena hujan tak kunjung reda, akhirnya kami memaksa untuk turun. Sambil iindiaan, kami berlari dari bis ke mushala. Anak-anak dikondisikan untuk shalat. Lalu kami naik lift ke lantai 5. Dan setelah sampai, kami langsung disuguhi dengan benda-benda berbau fisika.


Berbagai macam cermin, bola kristal, dan benda-benda lain yang ada teori fisikanya (yang saya gak tahu) walaupun kami gak faham, tapi tetap bisa menikmati semua kecanggihan itu.
Setelah sekitar tiga puluh menit, kami masuk ke area menonton tiga dimensi. Anak-anak sudah sangat excited tapi sayangnya kami salah memilih film. Kami memilih film bertema “shark” karena dalam ekspektasi kami, shark itu berarti kami berpetualang di laut dan di kejar-kejar hiu. Ternyata ekspektasi kami ketinggian ^^;
Ternyata Shark itu macam nonton discovery channel. Ya memang sih keren efek tiga dimensinya dapet. Tapi ya kalau untuk anak kelas 3 mah, kurang sesuai. Anak-anak sempat bosan, ribut, dan ada beberapa yang mondar-mandir.
Nah, itu yang bisa saya share tentang perjalanan kemarin. Berikut rincian biaya untuk yang mau kesana:
1.       Sewa bis pariwisata 59 sheets                    : 2.300.000
2.       Sewa mobil pemadam kebakaran         : 400.000/mobil (satu mobil untuk 25-30 anak)
3.       Masuk Gallery Science Sabuga                 : 25.000/anak (sudah termasuk nonton 3D)

Welcome to Bandung everyone! Jangan nyampah di sembarang tempat ya! :D


READ MORE - Outing SDIT 2017_Part II

Read Comments

Outing SDIT 2017_part I

What a very late post!
posting yang nyangkut di draft setahun lebih dan gak dipublish-publish! terlupakan... maafkan, judulnya dibuang sayang :(

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bismillah.
Hari ini saya akan berbagi tentang perjalanan kami yang mengasyikkan hari kemarin, 1 Februari 2017. Kami? Siapa sih si “kami” ini? Kami yang dimaksud di sini adalah rombongan kelas 3 SDIT Ibnu Khaldun. Kami berangkat naik bis, ada dua bis yang berangkat kemarin. Kami menyewa bis 59 seat, pas lah ya, buat 60 anak.

Di sekolah kami memang setiap semester ada agenda outing. Outingnya kemana, mangga, itu mah terserah guru. Guru tinggal survey lokasi, dan buat proposal untuk anggarannya. Tujuan outing kami di semester ini adalah mengunjungi Dinas Pemadam Kebakaran dan penanggulangan bencana alam, di daerah Jl Sukabumi dan Galeri IPTEK Sabuga ITB. Kayak gimana serunya perjalanan kami? Yuk cekidot cekidot!

Persiapan keberangkatan
Pukul tujuh, seperti biasa anak-anak shalat dhuha dan mura’jaah di kelas. Namun, tidak ada cerita pagi di hari itu, karena kami ingin berangkat secepatnya, maksimal 07.30. Anak-anak langsung dibariskan di depan kelas dan disiapkan untuk menaiki bis yang terparkir di Rumah Bungan Rizal, tidak jauh dari sekolah kami.
Saya berangkat duluan ke tempat parkir bis karena harus menuntaskan transaksi keuangan sambil menunggu rombongan anak-anak datang. Lalu anak-anak yang sudah semangat ekstra tinggi, masuk ke dalam bis satu persatu dengan tertib. Sebelumnya kami sudah ploting tempat duduk agar tidak terjadi chaos rebutan tempat :D

Perjalanan ke dinas damkar
Dari Lembang, kami berangkat pukul 07.30 dan sampai di Jl Sukabumi (dekat Jl Jakarta, Antapani) sekitar pukul 08.30, cepat yah.. alhamdulillah kami tidak terjebak macet. Anak-anak menikmati perjalanan dengan bernyanyi dan bercanda. Tidak ada yang mabuk perjalanan, alhamdulillah.
Setelah sampai, kami langsung digiring ke lantai tiga. Di sana sudah siap Bapak  Wawan, yang akan memberikan penjelasan seputar tugas-tugas pemadam kebakaran, cara menanggulangi kebakaran, dan lain-lain. Pembawaan beliau asyik banget. Anak-anak terkondisikan, ketawa-ketawa, dan bisa menyerap informasi dengan baik.
“Anak-anak, sayang gak sama bu guru?”
“Sayaaaaang.”
“Bu guru, sayang gak sama anak-anak?”
“Sayang.”
“Coba kalau bu guru  sayang sama anak-anak, berapa nomor telpon pemadam kebakaran?”
Hening.
“tuh, berarti bu guru bilang sayang teh, bohong. Kayaknya kalau ada kebakaran, bu guru yang bakal lari duluan.”
Itu salah satu percakapan yang mengundang tawa kami.
Tim damkar yang keren abis ini, mendemonstrasikan bagaimana cara memadamkan api yang sedang berkobar dari tabung gas LPG. Pakai tangan. Keren banget! Dan yang lebih keren lagi, ternyata, kami (guru dan murid) ditantang langsung untuk memadamkan api seperti yang Beliau ajarkan.
on frame: Bu Raidah (yang sudah resign) T-T

Alhamdulilah ilmu yang didapat banyak sekali. Intinya sih, kalau api terkendali, semuanya pasti aman. Jangan teriak-teriak doang, karena api paling anti diteriakin. Hehehe...
Setelah selesai pemaparan di lantai tiga, kami dibimbing ke lapangan. Di sana disimulasikan langsung mematikan api menggunakan APAR. Bu guru juga mencoba, yah walaupun sambil rada-rada gemeteran dan APARnya rada tidak terkendali (colek Bu Fanny), ahahah tapi asyik banget.

Belum selesai rasa senang kami, puncaknya kami diajak naik mobil damkar ke jalan. Raungan sirine yang membelah jalan, membuat kami serasa jadi orang penting. Sambil dadah-dadah kece, kami merasakan sejuknya angin kota Bandung di atas mobil pemadam kebakaran. (bagian gurunya yang teriak-teriak panik takut anaknya jatuh dari atas mah gak usah dijelaskan lah ya di sini)
Setelah itu, waktunya basah-basahan! Ini bagian yang paling ditunggu. Murid-murid berbekal jas hujan dan langsung disemprot pakai air untuk memadamkan api. Asyik banget. Bu guru juga pengin ikutan kalau gak inget sama umur mah xD


Yang agak ribet adalah ketika mau ganti baju. Singsingkan lengan baju, bu guru!
Kunjungan ke damkar selesai sampai di sini, lanjutan ke Galleri Sains Sabuga ITB, lanjut di  next post ya!



READ MORE - Outing SDIT 2017_part I

Read Comments

Ibu, Peranmu tak Sebatas Dapur dan Sumur

image taken from sayangianak.com 


           Salah satu dosen saya—yang ternyata saya telah  lupa namanya, apalagi gelarnya—pernah memberi kami, mahasiswanya, sebuah nasihat di sela-sela materi kuliah. Nasihat yang masih saya ingat dengan baik sampai sekarang.
            Nasihat itu pendek saja, namun membekas.Tentang peran seorang wanita. Saya yang saat itu masih berstatus jomblo fii sabilillah langsung mencatat baik-baik. Siapa tahu saya bisa jadi idaman para calon mertua, yang punya anak high quality jomblo fii sabilillah juga.
            Dalam nasihat tersebut, peran pertama seorang perempuan adalah sebagai hamba Allah. Saat seorang wanita sudah mampu menjadi hamba Allah yang baik, maka peran selanjutnya adalah mudah saja. Bagaimana tidak, seorang wanita yang cepat lelah, jengah, dan pandai bersilat lidah, tanpa menyandarkan hidupnya pada Allah, akan menjadi pribadi yang amat rapuh dan lemah. Maka tugas pertama seorang wanita adalah tunduk, taat, dan patuh padaRabbnya. “Sami’na wa atho’na, kami mendengar dan kami taat.” Menjadi hamba Allah berarti sudah menerima satu paket penyesuaian diri dengan apa yang Allah suka dan tidak suka. Belajar melebur ego demi meraih ridha-Nya.
            Peran kedua yang tak kalah berat, adalah saat ia sudah sold out, taken by someone. Diambil untuk menjadi penyempurna agama suaminya. Loyalitas, pengabdian, dan segambreng tugas sebagai seorang istri harus siap dipikul pundak seorang wanita. Buku bertema pernikahan yang memenuhi rak-rak toko buku, seminar bernada sama,bahkan sekedar curhat kerabat yang sama-sama sudah menikah, sejatinya bisa menjadi media bagi wanita untuk belajar menjadi istri yang baik.
Badai demi badai, ego yang harus kembali ditekan, keluwesan dalam berpikir dan bertindak, mulai dituntut bahkan sampai ambang batas yang tidak masuk akal, bila ingin bahtera pernikahan tetap ajeg.Karena beratnya peran menjadi seorang isteri inilah, maka ia layak mendapatkan surga. Menjadi pemimpin para bidadari surga,menjadi utama diantara permata. Siapa yang tak menghendakinya? Mari, kita tempuh bersama walau harus sambil merangkak.
            Peran menjadi seorang ibu, adalah tantangan selanjutnya. Benarkah wanita itu sudah siap menjadi madrasah pertama dari anak yang putih jiwanya? Bagai kertas kosong, seorang anak meminta ibunya untuk dilukisi.Lukisan bertemaaqidah yang lurus, keindahan perangai, kepiawaian berbahasa, pemahaman akan adab, dan sederettugas lainnya.
Berat? Sungguh berat. Jikalah menjadi hamba Allah dan seorang istri sudah berat, apatah lagi menjadi seorang ibu.Banyak sekali pengorbanan seorang ibu. Tidak hanya tentang jam tidur dan jatah jajan yang harus siap dicuri anak. Tapi juga kebersamaan dengan suami, bahkan sampai menyita nikmatnya beribadah. Sayapun seringkali salat dalam keadaan resah. karena saat salat sendirian di rumah, dengan lincahnya balita saya naik tangga, atau memanjat bufet di rumah.
Ibu yang terbaik bukanlahsalah satu diantara ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Bukan tentang siapa yang memberikan susu formula atau siapa yang jadi pejuang ASI. Karena setiap posisi dan pilihan, mempunyai konsekuensinya tersendiri. Ibu yang terbaik adalah ibu yang bisa optimal di kapasitasnya masing-masing, memenuhi takdir dan menjalankan peran yang digariskan Allah untuknya, dengan sebaik-baiknya. Ilmu menjadi ibu terserak dimana-mana. Tinggal kita membuka mata, lantas memilih apakah mau menerima, atau melewatkannya.
Peran terakhir, dan yang paling besar, adalah peran wanita tersebut dalam masyarakat. Bermanfaat di masyarakat tidak harus menjadi aktivis, dokter, atau guru mengaji. Menjadi ibu yang mencetak anak sebaik mungkin, tidak merampas hak tetangga, juga sudah menjadi wanita yang berperan dalam masyarakat. Bisa jadi wanita yang berkoar-koar menyuarakan keadilan untuk wanita di luar sana, kalah mulia di sisi Allah jika dibandingkan dengan wanita yang hanya sibuk di rumah, bolak-balik antara dapur dan sumur. Walaupun tentu saja, “diam” di sinitetap diam yang berkualitas.
Mari kita menjadi hamba Allah, istri, ibu, dan masyarakat yang berkualitas semaksimal kita. Karena hanya dengan cara itulah, kemuliaan hidup di dunia dan akhirat bisa tercapai. Teriring salam dan sebaik-baik do’a untuk dosen tercinta yang pernah memberi nasihat berharga. Walaupun saya tetap tidak bisa me-recall nama Anda, ada Allah yang tidak akan lupa memberi pahala, dan malaikat yang tidak akan pernah salah mencatat, insya Allah.
***

READ MORE - Ibu, Peranmu tak Sebatas Dapur dan Sumur

Read Comments

Saat Itu

pixabay.com


Saat itu....
Sedu sedan jadi makanan, tangis merupa kebiasaan, gelisah yang betumpuk-tumpuk menjadi beban,namun tetap tidak ada upaya untuk dibenarkan.

Saat itu...
Diam menjelma kawan, dingin malam menjadi santapan.
Belum lagi rasa sepi, kehilangan, dan mimpi-mimpi panjang melelahkan.

Saat itu...
Dia hanya bisa duduk, tersaruk mencari rasa yang berserakan. Mencoba memahami arti dari mimpi, dari tangis yang hilang jeda, juga hati yang kulitnya mengelupas.

Saat itu...
Dia merengkuh duka dalam-dalam, menghirup sesaknya hening fajar dan menelan kembali ratusan kata yang tidak bisa terlahir akibat bidan aksara yang tak hendak membantu persalinan kata.

Saat itu...
Diam.
Dia sakit kepala.
Mungkin akibat dikhianati kata yang terperangkap, hanya berisik di kepala, tanpa ada telinga yang menangkap, menanggapi, atau sekedar menangkap resonansi.

"Jangankan telinga orang," katanya. Bahkan telinganya sendiri saja, yang satu kepala dengannya, tak bisa mendengar apa-apa.

Saat itu...
Pada usangnya sajadah dan mushaf ia kembali.
Ah, ya. Mereka memang selalu bisa jadi andalan di saat sepi.

***

Di bawah langit-langit,
Dibatasi empat dinding yang sudah kuhafal warnanya dengan baik,
6 Mei 2017
READ MORE - Saat Itu

Read Comments

Payung

Image by google

"Kamu ngerusak payung Mama?" Tanya Ibu Luthfi dengan nada tinggi. Tak mengindahkan anaknya yang basah terkena siraman hujan.
Luthfi bergeming. Bukannya menjawab salam, ibunya malah membentak.
Kakak dan adiknya duduk di kursi, menunduk. 
.
Senyum Luthfi yang mengembang di sepanjang jalan dari sekolah sirna sudah. Ia mengangguk.
.
"Maaf, Ma. Luthfi tidak sengaja." Bukannya melunak, Mama Luthfi malah memukulkan tongkat payung itu ke betisnya. Satu. Dua. Tiga. Empat. Luthfi memejamkan mata, menggigit bibir, menahan sakit.
.
Rasa panas menjalar di kakinya. Tapi, lebih panas lagi matanya. Sebisa mungkin ia tidak akan menangis.
.
"Bodoh, anak tak berguna! Mama kan udah bilang, jangan pakai payung mama! Kamu mau ganti, hah?"
.
Satu pukulan berikutnya, lebih keras dari yang tadi.
.
Luthfi diam, kakak-kakaknya diam. Adiknya yang paling kecil menangis. Mungkin takut. Bayi tak berdosapun merasakan atmosfer tidak nyaman itu.
.
"Susah-susah Mama ngegedein kalian. Gak ada yang berguna! Bisanya cuma minta uang, beli ini, beli itu. Ngerusak ini, ngerusak itu!"
.
Mama berkacak pinggang. Kini tidak hanya Luthfi yang jadi sasaran. Kelima anaknya jadi korban, hanya karena payung patah sialan itu.
.
"Mama tuh capek! Harus masak, harus nyuci, harus nyetrika, belum harus bikin kue, jualan keliling kampung! Kalian cuma bisa bikin Mama susah!" Muka mama Luthfi merah. Amarah meledak, tangis hampir meruah.
.
"Minta sana sama Bapak kalian! Datangin ke istri mudanya!" Kelima anaknya tertunduk lebih dalam. Siapapun kini faham, amarah Mama mereka, bukan sekedar tentang gagang payung yang patah.
***
Dua puluh enam ribu lima ratus. Anak laki-laki itu melirik uang yang kini ada di tangannya. Jika ia membeli kerudung itu, uangnya tinggal seribu lima ratus. Artinya, ia tidak akan bisa pulang naik angkot.
.
Ia bergeming di tempatnya beberapa saat, lalu memutuskan untuk membeli. Dipilihnya kerudung polos segi empat tanpa motif. Biru muda. Pasti cocok untuk wajah perempuan itu. Perempuan yang telah membesarkannya selama dua belas tahun.
.
Setelah pelayan toko membungkus kerudung itu, segera dimasukkannya ke dalam tas ransel. Tas itu kumal, layaknya baju seragam merah putih yang membungkus tubuh kurusnya. Dari bladus warnanya, siapapun akan tahu, bahwa baju dan tas itu pastilah lungsuran seseorang, mungkin kakaknya.
.
"Ibumu ulang tahun?" Tito yang menemaninya ke toko jilbab bertanya.
"Tidak. Memang kenapa?" Anak itu balas bertanya.
"Kenapa kamu belikan hadiah segala?"
"Gak apa-apa, pengen aja."
.
Mereka berdua menelusuri gang demi gang untuk memangkas jarak. Tito sebenarnya menawari Luthfi untuk pinjam uangnya, tapi Luthfi menolak.
.
Mereka berbincang tentang segala hal di hari itu sambil tertawa-tawa. Luthfi ingin segera sampai di rumah, ingin memberikan hadiah kecil untuk ibunya. Uang jajan yang telah ia sisihkan selama seminggu ini.
.
Beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba hujan mengguyur bumi. Tito berlari, sedang Luthfi menepi. Ia teringat ada payung milik ibunya. Luthfi membuka payung usang yang sudah karatan. Berusaha membuka, tapi payung itu tak hendak menuruti keinginannya bahkan setelah dikerahkan semua tenaga miliknya.
.
Krak! Payung itu malah memilih untuk patah. Gagangnya terkulai. Ah, sudahlah. Luhfi tidak peduli, mengejar Tito yang sudah sepuluh langkah di depannya.
.
Ia berlari kencang sembari tertawa. Acuh pada hujan, tak peduli pada payung patah, atau pada seragam dan sepatunya yang basah. Ia tak ingat bahwa seragam dan sepatunya hanya satu, dan itu berarti tak ada ganti untuk esok hari.
.
Hatinya bernyanyi riang.
Mama, ini ada hadiah untuk mama, tunggu sebentar ya....
***

Ummusagara, 18 April 2017
READ MORE - Payung

Read Comments

Milang Tanggal, Miceun Sono

Nulis Basa Sunda teu gampang. Diksi nu aya di otak abdi, ngan sakitu2na. Sigana leuwih gampang nulis ku Basa Indonesia, atawa Inggris, meureun. (Da Inggris mah bisa ningali kana kamus. Basa sunda mah hese milarian kamusna).
.
Nyobian nulis manual dina buku. Tos jadi, teu pede bisi ngaco. Langsung enggal2 diketik, dicopy, dikirimkeun ka Ibu Guru @sri guntari, nu lulusan Sastra Sunda meles.
.
Hatur nuhun bu Nci, tos kersa ngedit sangkan teu ngisinkeun ieu puisi dipublish. Hehehe..
.

Dina foto, versi asli sateuacan diedit master.
.
***
Milang Tanggal, Miceun Sono
.
.
Tuh tingali sagara
Ombakna terus gugupay
mapaykeun kalakay
Nu teu bosen diilikan
Unggal poek unggal ngempray
.
Tah sawang gunung nu ajeg nangtung
Pasak eurih teu eureun ngawih
Iber pikeun balerea
Rupa wanci nu teu bubuk kasaring ati
.
Prak tempo eta curucud ibun
Dina panon sakolebatan
Ngagalaksak kana rungkad
.
Poe ieu
Masih keneh
Kuring milang tanggal, miceun sono
Nu teu gedag kaubaran
Sanajan parantos tepang
.
*ummusagara, 27 Maret 2017
READ MORE - Milang Tanggal, Miceun Sono

Read Comments

Surat

Images by google


Saat bebungaan ditaburkan, baju pengantin dijahitkan, undangan disebarkan, dan ijab diqabulkan... Maka saat itulah 'Arsy yang agung terguncang. Karena kuatnya perjanjian yang dipikulkan.
.
Tahukah?
Saat itulah dosamu menjadi dosaku.
Selangkah kakimu mendekati panasnya neraka, dua langkah aku berjalan menujunya lebih cepat.
.
Maka mudahkanlah tugasku.
Ringankan bebanku.
Karena sungguh, menjadi suami yang memikul segala dosamu, adalah berat.
Menjadi ayah untuk anak-anakmu, adalah payah.
.
Sedang rasa rinduku pada ibu, tidak bisa lagi kutuntaskan.
Rambut putihnya, kulit tuanya, mata lelahnya, selalu kurindukan.
Tapi kamu masih merengek, katamu ibuku selalu memancing perang.
.
Foto-foto cantikmu di berbagai akun sosial yang aku tak punya, pergaulanmu dengan teman kerja, selemari pakaian baru berbagai warna, bukankah aku akan turut serta ikut ditanyai oleh-Nya?
Bagaimana jika dikatakanNya bahwa aku tak menjaga?
Tak memberimu ilmu tentangnya?
.
Lalu saat diingatkan, kamu menangis tersedu.
Katamu segala hormon kewanitaanmu memaksaku untuk memahamimu.
Lalu apakah laki-laki tak patut turut merajuk, tersebab tak memiliki hormon yang ada padamu?
.
Sekali lagi, sayang.
Mudahkanlah jalanku.
Aku tahu kamu tulang rusukku.
Bengkok, dan rapuh.
Bila kubiarkan maka engkau akan semakin bengkok.
Dan apabila kuluruskan paksa, maka engkau begitu mudah untuk patah.
.
Tapi, katakanlah.
Aku bukan cenayang yang akan tahu apa yang ada di dalam kepalamu, jika kamu tak bicara.
...
****
Air mataku menetes pelan, semakin lama semakin deras. Membasahi ponsel yang baru saja berbunyi mengirimkan pesan darinya. Pesan dari hatinya. Sungguh, aku telah begitu jahat pada imamku.
.
Lantas aku bergegas ke dapur. Dengan tangan bergetar, membuatkan kopi pahit dengan sedikit gula kesukaanya. Hatiku mencelos. Tapi, biarlah. Sungguh diri ini lupa bahwa segala wangi surga, ada pada ridhanya.
.
Aku mengetuk pintu kamar pelan. Entah harus bagaimana memulai percakapan. Atau apa yang pertama-tama harus kukatakan. Mataku terkunci pada sosoknya. Kudapati ia begitu terlihat lelah. Seorang yang kucinta, tengah terduduk di tepi ranjang. Menunduk, menyimpan segala luka. Dengan raut muka yang tak akan pernah aku lupa.
.
@ummusagara, 24 Maret 2017.

READ MORE - Surat

Read Comments

Filosofi Angsa

Angsa, si unggas cantik. Yang bila disebutkan namanya, otak kita akan menggambarkan seekor burung dengan bulu putih bersih. Dan ternyata, angsa tidak hanya elok rupanya, namun juga perangainya.
.
Hmm, kajian pekanan kali ini murabbiyah saya menyajikan cerita tentang angsa. Sebetulnya saya sudah punya niay baik, setiap dapat materi pekanan, saya akan menuliskannya di blog. Karena apa? Karena dalam "lingkaran", hanya saya yang tidak pegang buku dan pulpen! Rempong sama de Agra yang kalau sudah bosan ditidurin, oek oek. Belum lagi Aa Sagara yang heboh narik2 umminya buat keluar ruangan. Hahaha chaos we pokonamah, hapunten nya buibu :)
.
Tapi, yah itulah. Niat mah sudah ada dari dulu, tapi ternyata belum ada realisasinya sampai sekarang.
.
Tapi kajian kemarin memang berkesan. Kembali pada angsa. Saya baru tahu kalau angsa ternyata bisa terbang jauh. Di negara empat musim, angsa akan terbang jauh ke arah selatan, menghindari musim dingin.
.
 Taken at anehdidunia.blogspot.com
.
Pernah lihat? Kalau di film mungkin pernah. Angsa akan terbang ramai-ramai, membentuk formasi huruf V. Ternyata, ada filosofi dan hikmah luar biasa dari serombongan angsa cantik ini.
.
Fakta angsa terbang ini diantaranya:
1. Dengan terbang berjamaah, membentuk huruf V, angsa bisa terbang 70℅ lebih jauh dibandingkan terbang sendiri-sendiri. Kenapa? Karena angsa yang di belakang gak perlu capek, lapisan angsa di depannya dengan ikhlas akan membuka jalur menantang angin. Jadi yang bagian belakang lebih mudah terbangnya.
.
Nah, kan? Angsa saja bisa tahu manfaat berjamaah, maka mengapa manusia harus sendiri? Jika berjamaah saja kita selemah ini, maka bagaimana jika kita berjuang sendiri? Padahal dari dulu,  di buku paket jadul saat saya masih SD pun, sudah termaktub manusia adalah makhluk sosial. Inget, angsa gak punya buku paket lho ya!
.
2. Ketika angsa di depan kelelahan, mereka akan berputar ke belakang. Dan barisan belakang, gantian menjadi pemimpin, membuka jalan untuk kawannya.
.
Ini, adalah sesuatu yang kadang manusia sulit lakukan. Aman dan nyaman jadi follower. Contoh pendeknya, akhawat kalau mau shalat berjamaah masih patunjuk-tunjuk, gak mau jadi imam. Hehehe.. Sudah sepatutnya kita meniru angsa. Saat pemimpin kita lelah, maka gantikanlah. Lanjutkan estafet perjalanan yang masih panjang.
.
3. Kelompok angsa di belakang, selalu mengeluarkan suara riuh rendah, sehingga angsa-angsa di depan tetap semangat. Semacam cheers kali ya.. Yang penting, saat kita sedang dipimpin, kita harus bisa jadi makmum yang baik. Keluarkan suara-suara oke yang membuat pemimpin kita terpacu semangatnya. Jangan nyinyir, apalagi menjatuhkan. Kalau pemimpinya membawa romobongan ke arah yang benar, maka dukung! Angsa aja tau, kok :D
.
4. Solider tinggi.
Ini yang paling nyes, dan menohok rasa kemanusiaan saya. Ketika ada satu angsa terpaksa berpisah dari rombongan, baik karena tidak sanggup karena lelah, atau tertembak, maka otomatis dua angsa lain akan keluar juga dari rombongan. Mereka akan turun ke bawah, menjaga si angsa lemah. Merawatnya sampai sembuh, atau menungguinya sampai mati.
.
Subhanallah, speechless ya. Kita manusia bagaimana? Bisakah kita semulia angsa? Tanpa menunggu perintah langsung merawat saudaranya walau dengan resiko ketinggalan rombongan.
.
Apa yang akan terjadi dengan angsa yang tertinggal? Mereka akan menyusul dengan kekuatan mereka sendiri. Atau membentuk formasi baru, bergabung dengan angsa lain.
.
Thats it. Be humble, be strong, be brave. We're human, but we aren't care enough, as well as a swan in the sky. See? Manusia jaman kiwari, malah rombongan jadi culik anak!
.
Itu saja yang bisa saya bagi. maapkan kalau gak enak dibaca dan banyak typo. Ini ngetik rurusuhan di kelas pas anak2 lagi pramuka. And here they are comin' back :)
.
Lumayan lah ya, blog saya gak lumutan lagi setidaknya :p
.
Demikian. Salam.
READ MORE - Filosofi Angsa

Read Comments

Rinduku Padamu Saban Pagi

Blog saya usang!
Karatan, berdebu, berbau. Gegara sudah lama tidak disambangi. Ini mungkin yang namanya hiatus :D
.
Bebersih aah.. Coret-coret dikit biar rumah saya ini gak kayak rumah hantu, hiihihiiihiii
.
Mainan itu berserakan. Sudah ia susun keping-keping puzzle itu dengan sempurna. Mobil-mobilan yang menarik hatinya di hari pertama, kini sudah usang baginya. Tak lagi menarik. Hanya satu yang ia inginkan, bertemu ummi, abi, dan adiknya. Lantas bercanda bersama, tertawa, atau sekedar tiduran di paha umminya sambil bercerita.
.
Pengasuh itu baik hati. Ia menyeka ingus di hidungnya denga hati-hati. Tapi ia marah, seperti saat ummi atau abinya yang memebersihkan hidungnya.
.
"Ummi mana?" Anak kecil itu bertanya. Mencoba berdamai dengan rindu di dada.
"Ummi lagi ngajar, sayang." Si pengasuh menjawab.
"Abi?"
"Sama, abi juga kerja. Dah, main dulu sana."
.
Anak itu menurut. Rasa rindu itu ditekannya. Lantas berlarian di dalam rumah itu, bersama kawan-kawannya. Kawan yang bernasib sama, dari pagi hingga petang harus membunuh waktu (dan rindu) di sana. Tapi, bukan anak kecil namanya. Jika ia tidak menikmati waktu mereka.
.
Kaki kecilnya bergerak riang, mulutnya berceloteh. Kepalanya miring ke kiri dan ke kanan seiring dengan pengasuhnya yang mulai menyanyikan lagu anak. Ia tertawa, begitu lepas. Sesekali, masih teringat pada orang tuanya, namun tak lagi memberenggut.
.
Matahari pongah. Panasnya menari di kaki langit. Satu dua bocah itu lelah, lalu jatuh lelap. Ia mengikuti kemauan matanya yang memberat. Sambil duduk memegangi bola plastik berwarna biru, ia menguap. Pengasuhnya cepat tanggap, lantas digendongnya anak itu dan dipindahkan ke kamar tidur. Di tepuk-tepuk sebentar, lalu hilang kesadarannya. Ia tertidur dengan segera. Mimpinya siang itu, ia naik minibus bersama ummi, abi, dan adiknya. Ke suatu tempat, yang oleh orang tuanya dinamai apa, ia lupa.
.
***
Si anak kecil dengan riang gembira sedang bermain di halaman belakang. Sudah lupa pada rindunya.
"Kaka, dijemput Bunda." Kawan sepermainannya melonjak girang. Meninggalkannya tanpa pamit. Terlalu girang ingin segera bergelayut di lengan Bundanya.
.
Lalu anak itu menangis. Satu, karena temannya pulang. Dua, kenapa saya tidak dijemput juga? Itu yang ada dalam kepalanya. Beberapa menit kemudian, satu demi satu kawannya pulang dijemput orang tuanya masing-masing.
.
Ia bergeming. Tas bergambar McQueen dan jaket kepik kuningnya sudah ia pegangi.
.
"Sagara, tuh ummi." Lalu terbitlah senyum tulusnya yang sempat hilang.
"Ummi, ummi, ummi. Asiiik ummiiii." Ia melompat-lompat.
.
Yang dipanggil ummi, segera bertanya satu dua hal tentang anaknya pada pengasuh. Hal-hal sepele untuk orang lain, namun sebetulnya amat penting untuknya.
.
Apakah hari ini bekalnya habis?
Apakah ia tidur siangnya lama?
Apakah ia pipis di celana?
Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.
.
Lalu si anak dipegangi tangannya, pamit dari rumah bersih bertuliskan "daycare Al-kahfi." Si anak bergelayut di tangannya. Bercerita tentang segala sesuatu yang luput dari penglihatan ibunya. Mulutnya bicara, matanya bicara, setiap inchi tubuhnya bicara. Ibunya mendengarkan seolah hal itu adalah informasi paling penting di dunia.
.
Berdua mereka berpegangan tangan. Menyusuri jalan kecil, melepaskan rindu yang melekat seharian. Ajaib, penat si ibu, seketika hilang.
.
.
.
.
Hal ini, sayang, akan kembali berlanjut, beratus hari kemudian. Sabar dan ikhlas ya sayang. InsyaAllah walaupun ummi harus bekerja, ummi titipkan kamu pada sebaik-baik penjaga. Daycare, hanya tempat singgah dan main setiap hari. Sesungguhnya yang menjagamu adalah Allah. Kamu dalam sebaik-baik penjagaanNya. Di daycare, paling tidak, kamu steril dari gadget yang mulai merongrong :D
.Senja ini, segala wangi rindu kulumat habis. Rindu memang terbunuh, namun ia pasti kembali bertumbuh, esok hari...

Tetaplah seperti ini; berpegangan tangan menyusuri jalan, bertukar cerita, membunuh rindu, mengabsen layang-layang, laba-laba, genangan air, lubang di jalan, dan gemericik air di kolam ikan...
.

READ MORE - Rinduku Padamu Saban Pagi

Read Comments

ALIFAH


Image source: draxe.com

Namanya Alifah. Cantik bersahaja. Kulitnya pualam, rambutnya pekat malam. Tubuhnya elok serupa puisi, senyumnya memikat. Bibirnya cantik. Cantiknya bertambah-tambah sebab mulutnya lebih sering mengulang hafalan yang sudah lebih dari setengah kitab, daripada sekedar merapal kidung. Badannya langsing macam pelatih senam aerobik walaupun tak kentara, karena senantiasa tertutup baju longgar dan jilbab besar. Singkatnya, ia merupa bidadari dunia yang sering dibidik lelaki shalih. Namun kenyataannya, di usia tiga puluh tiga, ia masih juga sendiri. Belum ada sepasang buku nikah bertengger di laci lemari, tempatnya menyimpan berlembar-lembar ijazah dan surat penting lainnya.

Hari itu terik, kering. Debu-debu menunggangi angin dengan riang gembira. Panas yang menyisakan Alifah bersama dua botol air mineral. Satu botol kosong sempurna, satu lagi nasibnya hampir serupa. Alifah memilih untuk  mengoreksi soal di bangku taman tepat di bawah pohon rimbun. Tampak mulai dirambati kebosanan, kini mata kenarinya beralih dari tumpukan kertas, ke arah jam dua belas. Matanya terpaku pada gerombolan mahasiswa yang baru saja keluar dari kelasnya, murid-muridnya.

“Kamu naksir salah satu mahasiswa di kelasmu, Alifah?” Hanum, sahabatnya semenjak kuliah, menggoda Alifah demi melihat sahabatnya yang begitu fokus pada gerombolan mahasiswa tersebut.

Alifah hanya tersenyum kecut.

Hanum menyeruput jus mangga dinginnya. “Sudahlah, Alifah. Menyerah saja dengan mimpi muliamu itu. Masih banyak pintu menuju surga. Kalaupun kamu mau mencomot salah satu mahasiswa itu, aku yakin dia bakal mau. Kamu masih tampak seumuran mereka.”

“Well, well, well... Ibu Dosen Hanum yang terkenal galak di kampus kita mulai metode ceramah lagi pada temannya yang telat menikah ini.”  Alifah memutar bola matanya jengah.

Hanum terkikik. Lihatlah, sungguh ironi. Sejak kuliah, Alifahlah yang selalu menarik minat  ikhwan untuk mengkhitbahnya. Seorang cumlaude yang cantik jelita nan sholihah. Sedang Hanum? Ia hanyalah bayang-bayang hitam sahabatnya. Ia lebih sering ditanyai tentang Alifah dibandingkan tentang kehidupannya sendiri. Bayangan hitam, bukan hanya ilustrasi, tapi memang juga bayangan hitam secara harfiah. Dengan kasat mata, mungkin Hanum yang badannya gempal berisi dan kurang tinggi itulah yang lebih cocok menjadi perawan tua. Tapi siapalah yang mengetahui perjalanan takdir? Hanum yang tidak pernah mencolok kehadirannya malah diberi rizki  bisa menikah muda, dan sekarang dikaruniai tiga anak.

Ponsel Alifah bergetar. Ia memang tidak suka ponselnya mengeluarkan bebunyian. Keningnya berkerut. Muncul sederet angka yang tidak dikenali ponsel pintar miliknya.

“Assalamu’alaikum.” Sapa Alifah.

Entah apa yang dibicarakan di sebrang sana. Hanum melirik Alifah sebentar. Menerka pembicaraan yang sedang berlangsung di depannya. Alifah tampak tersipu. Tapi jelas ia bukan sedang bicara dengan laki-laki. Suara perempuan bisa terdengar oleh Hanum walau hanya sayup-sayup. Lantas mengapa Alifah harus salah tingkah dan tersipu macam itu?

Setelah sekita lima menit, Alifah menutup teleponnya. Masih tersenyum bahagia. Hanum dirundung beribu tanya. Apakah ada kabar bahagia? Tapi ia tidak berani bertanya, lihat saja, apakah Alifah akan bercerita?

“Jodohku sudah dekat, insya Allah.” Alifah memandang Hanum. Menjelaskan tanpa diminta.

“Benarkah? Wow, aku teramat bahagia. Tapi, tunggu, apakah laki-laki itu ... ?” Hanum membiarkan kalimatnya tergantung di udara.

“Yup. Sudah beristri. Mimpiku untuk menjadi istri kedua, masih tetap ada, Hanum. Dan semoga Allah memudahkan proses selanjutnya.” Alifah menyeruput lagi air mineral di botol keduanya yang nyaris kosong.

Hanum tertegun. Sungguh, ia yakin ada banyak jalan menuju surga. Mengapa sahabatnya begitu teguh pendirian, hanya ingin menikah dengan suami orang?

“Di dunia ini perbandingan perempuan dengan laki-laki sudah begitu jauh. Kalau semua perempuan ingin memonopoli laki-laki, bagaimana nasibnya yang tidak kebagian? Aku akan berbaik hati untuk mengalah.” Itu selalu menjadi jawaban andalan setiap kali Alifah ditanyai mengapa.

Di zaman serba egois ini, Alifah berbeda. Saat di sudut kota ada perempuan bunuh diri karena diselingkuhi pacar atau suaminya, ia malah ingin menobatkan diri menjadi yang kedua. Serupa ratu tanpa mahkota dalam bahtera rumah tangga. Saat setiap wanita saling sikut ingin menjadi permaisuri bagi rajanya, ia begitu keras hati ingin menjadi selir di kerajaannya kelak. Itulah, alasan mengapa selama ini tiap laki-laki yang bertitel single, ditolaknya.

"Siapa laki-laki itu, Alifah?" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hanum.

"Kamu mengenalnya, Hanum. Bahkan mengenal dengan sangat baik." Alifah tersenyum penuh arti.Hanum menarik napas berat. Bukan ia yang akan berbagi suami. Harusnya dadanya tidak perlu merasa sesak. Ya, seharusnya...


Bersambung...



#TantanganCerbung



READ MORE - ALIFAH

Read Comments

Lagi, untuk Sagara


Maafkan ibu...
Bukan tangan ini sudah tak hendak menghapus sisa-sisa air matamu, atau tak ingin melantunkan lagu saat matamu mulai memberat. Sungguh juga bukan karena tak sayang.
.
Fitrah kami, sebagai seorang ibu, pastilah ingin selalu dekat dengan anaknya. Dekat sedekat-dekatnya. Menghidu setiap aroma bersamamu, atau sekedar berpura-pura menikmati bubur imajinasimu.
.
Tentulah kamupun tahu, bahwa setiap hela napas yang kita hembuskan setiap detik, tidak akan pernah kembali. Dan mungkin, ibu akan menyesali setiap hela napas yang kau buang, tanpa ada ibu di sampingmu.
.
Maafkan ibu, mungkin dengan cara ini, ibu memaksamu untuk lebih cepat matang dari anak seusiamu.
Semoga Allah ridha, dan selalu mendekapmu, dalam sebaik-baiknya penjagaan.
.
Berbahagialah dengan teman dan pengasuhmu, Nak. Insyaallah dimanapun kamu menghabiskan waktu, kamu tetap anak sholih yang menebarkan senyum untuk orang di sekitarmu :)
.
Mudah-mudahan betah di daycare barunya ya sayang :*
READ MORE - Lagi, untuk Sagara

Read Comments

Sunda; Basa Asing Keur Pribumina

gambar kenging ti Google

Tos lami hoyong nulis nganggé Basa Sunda téh. Rumaos hésé sareng teu aya katiasa, mung pami teu usaha, moal aya hasilna.
.
Wengi tadi sim kuring maca status nu maké Basa Sunda, janten kasuat-suat. Hoyong ngelingan keur sorangan, sukur-sukur aya babaturan nu ngiringan.
.
Prak geura titénan, atawa sebatan. Saha waé nu di bumi murangkalihna nyarios Basa Sunda? Sigana mung hiji dua anu ngacung. Tapi Alhamdulillah sim kuring mah sareng Pun Lanceuk masih keneh nganggé Basa Sunda pami ngajak ngobrol budak, sanajan sakapeung sok kacampuran ku Basa Indonesia.
.
"Lucu aya budak alit nyarios Sunda." Kitu pan pok uwana Sagara nu ti Bogor manakala ngaregepkeun éta budak nuju nyarita. Naha dugi ka kituna? Siganamah ku jarang-jarangna jaman ayeuna budak nyarios basa Sunda.
.
"Aa mau kemana?" Taros hiji tatangga ka Sagara. Tuh, nganggé Basa Indonesia deui wae.
"Bade ka warung." Ku budak ditembal nganggé Sunda.
"Mau beli apa?"
"Mésér susu anu biru."
"Mau atuh, boleh minta?"
"Henteu."
Tungtungna indungna nu gereget, " Ka Sagara mah nyariosna Sunda waé, Kang." Dikitukeun mah, nembé nyambung frékuensina sareng budak.
.
Sim kuring rumaos teu tiasa nyarios Sunda leres. Rumaos kasar da digedékeun di lingkungan nu nyalariosna kitu ayana. Komo deui kana undak usuk basa, jauh nonggéng ka langit. (Ieu gé ngarang, duka leres duka henteu).
Ngan aya kénéh kahariwang, ieu Basa bakal punah.
.
Urang Sundana waé tos alim nyarios Sunda, jadi saha nu bakal ngajaga tur ngawariskeun ka turunanana? Tuh, tengetan urang Jawa. Sanajan di Jakarta, ari sareng baladna mah uplek weh nyarios Basa Jawa. Naha ari urang Sunda?
.
Aya nu kantos ngobrol ka pegawai Yogya atanapi Indomaret ngangge Basa Sunda? Pasti nyariosna Indonesia.
"Mbak, detergent sebelah mana, ya?"
"Di rak ketiga dari ujung."
Kitu pan? Naha kudu "Mbak"? Naha kudu ku Basa Indonesia? Da yakin sim kuring mah, eta nu nanya jeung ditanya teh, nu hiji moal jauh ti urang Cikole, nu hijina urang Cihideung.
.
Sanés anti kana basa persatuan. Keun da basa Indonesia mah, teu diajaran gé budak bakal bisa nyalira. Tapi pami Basa Sunda teu diajarkeun ti alit, yakin tos sakola moal tiasa. Pangalaman ningali guru Basa Sunda menteun ulangan, nilaina teu tebih ti nilai opat. Kumaha teu opat, da budak ayeuna mah moal apal mana nu di sebut langseng, boboko, atawa aseupan?
.
" Bu ,neranginnya jangan pakai Basa Sunda, gak ngerti." Pok barudak sok protes manakala sim kuring nerangkeun IPA tapi maké Basa Sunda.
"Tah, kusabab hidep teu diajarkeun Basa Sunda di bumi, sok di sakola ku ibu ajarkeun sakedik-sakedik." Tembal sim kuring bari heuay.
.
Tos ah, sakitu. Tuh budak Sunda nu diobrolkeun tadi tos gugah, gegeroan milarian ummina.
.
#SapoeSatulisanTapiTosDuaPoeNgahutang
READ MORE - Sunda; Basa Asing Keur Pribumina

Read Comments

Balada OLshop



Bismillah.
.
Hari Jum'at kemarin saya gak setor tulisan karena niatnya mau buat cerpen. Cerpen belum beres, waktunya udah keburu abis. Padahal cerpennya juga gak bagus. Harus banyak berguru sama teman ODOP yang bisa melahirkan cerpen maknyus dalam waktu singkat, nih.
.
So, saya membayar utang tulisan dengan cerita ini dulu. Mumpung masih anget. Baca sampai selesai atau kamu akan ketinggalan info penting (maksa Mode On)
.
Saya kecewa sama Online Shop!
.
Tapi itu tiga puluh menit yang lalu. Karena sekarang rasa kecewa itu berubah menjadi rasa takjub dan sempat membuat saya speechless. Apa pasal?
.
Berawal dari sebuah status di beranda facebook, sang empunya OLshop buku menawari diskon.
.
Cling!
Langsung berbinar dong ya, mata saya lihat diskonan. Langsung dah saya bintangin  Tentang Kamu, buku teranyar Tere Liye, dan Lapis-lapis Keberkahan punyanya Salim A. Fillah, yang dulu sempat saya ubek di Gramedia tapi gak nemu.
.
Tapi sayang! Diskon hanya berlaku jika saya pesan empat buku. Sementara budget hanya buat dua buku. Jadilah saya mencari kawan. Siapa tahu ada yang mau ikut join, jadi kita sama-sama dapat diskonan. (Kreatifnya muncul kalau udah nyangkut diskon, dasar emak-emak).
.
Malang nasib ternyata gak ada yang mau. Setelah curhat sama si pemilik OLshop, Beliau kasian sama saya. Heuheu, akhirnya saya tetap dikasih diskon walau hanya beli dua. Menghargai usaha saya, katanya. Yeah! Rizki anak sholeh.
.
Lalu selesailah proses transfer di hari Minggu pagi, minggu lalu. Dan saya meneruskan hidup sambil nunggu paketan dua buku yang memang udah kepengen banget saya baca.
.
Daaaan, karena saya minta dikirim pakai jasa pengiriman yang paling murah (secara ya, Jogja-Lembang) datanglah si paketan buku itu hari ini. Setelah enam hari menunggu, si cinta pun tiba.
.
Saya yang sedang menjemur baju di lantai atas mendengar pintu diketuk, dibuka oleh suami. Dari dialog yang terdengar, saya yakin itu paket buku saya. Lalu dengan hati riang gembira saya menelantarkan jemuran yang belum selesai demi membuka paketan.
.
"Tere Liyeee..." Saya bersorak. Bergegas membuka paket.
"Wah, asyik mi bukunya tebel." Suami berkomentar begitu saya mengeluarkan dua buku.
.
Etapi tunggu! Kening saya berkerut. Ini mah Tere Liye-nya Rindu! Buku lama yang sudah saya baca. Mendadak lemas deh pundak saya. Jadi melorot duduknya. Bayangan hari ini bermesraan dengan Bang Tere sirna sudah.
.
"Yaaaaah, Abi, ini mah Rindu! Umi udah baca." Walaupun buku Rindu dulu saya hanya pinjam teman, tetap aja kecewa karena saya sudah baca. Mungkin lain cerita kalau saya belum baca. Selama bukunya Tere Liye mah, pasti bagus semua. Mungki saya juga gak akan protes sama si Mbak pengirim.
.
"Dih. Banyak kali, Mi, yang musti dipaketin makanya jadi salah."
.
Dengan wajah berkerut dan bibir cemberut akhirnya saya menghubungi sang pemilik OLshop.
.
"Mbak, ini mah Tere Liyenya Rindu. Saya udah baca. Saya kan pesannya Tentang Kamu. Gimana nih Mbak, Rindunya musti saya kirim ke Jogja lagi?" Sent. Tidak lupa dengan emoticon manyun dua biji.
.
"Walah. Iya toh, Mbak? Sebentar saya tanya teman dulu. Soalnya yang packing teman saya."
.
Saya menunggu jawaban selanjutnya sambil membuka wrapping buku satunya yang enggak salah judul.
.
"Mbak, maaf sekali ya atas kelalaian kami. InsyaAllah hari Senin kami kirim kembali." Begitu jawabnya.
.
Lalu saya membalas, "Mbak, Rindu harganya 55rb kan yah? Saya transfer aja ya. Biar gak harus ongkir lagi." Saya rasa itu solusi terbaik. Karena saya malas kalau harus packing buku dan nganterin ke jasa pengiriman yang entah ada dimana (yah walaupun sebenarnya suami yang bakal pergi)
.
Dan apakah jawabannya?
"Tidak usah, Mbak. Bukunya tidak usah dikembalikan. Tidak perlu transfer juga. Kalau Mbak sudah baca, kasih ke yang lain saja. Buat hadiah."
.
Ya Allah, saya langsung speechless. Baik banget gak sih ini si Mbak penjual buku?
.
Untung saya gak marah-marah pas complain. Kalau iya, malunya bisa dobel tuh. Nah, kesimpulannya, saya mau kasih tau aja ke teman-teman, ada OLshop yang jual buku baik banget di Jogja sana. Nama Fbnya, "Kun Dyas Suryaningrum".
.
Sila berbelanja di sana. Karena pemilik lapaknya cantik, baik hati, tidak sombong, ramah, pemberi diskon pula. Jangan-jangan masih single? #eh
.
Tapi ntar kalau beli jangan pura-pura salah buku ya, kasian ntar bangkrut ganti rugi mulu!
.
Sekian dari saya. Happy shopping!
.
#OneDayOnePost
READ MORE - Balada OLshop

Read Comments

Kunamai Kalian Kawan


Kunamai kalian kawan
Menelusur jalan
Bersama menggerogoti es murahan
Atau berlari, dilempari batu oleh anak perumahan
.
Terik siang
Tingkap dimakan malam
Tawa kita pada rumus fisika
Atau hiragana
Masih terngiang
.
Ingatkah pada wajah memberenggut?
"Remedial, remedial!"
.
Juga pada tawa, "Si lumba-lumba"
Masih kuingat kita berpayah-payah berburu bakteri
Dan jerami
Untuk Pak Didi guru Biologi
.
Rasanya seperti purnama kemarin, bukan?
Dan kini kita menua bersama
.
Ibu... Ibu...
Pasukan cilik kelak menggelayut di kanan kiri kita
.
Mari,
Kenalkan pada mereka
"Inilah sahabat Ibu tersayang, Nak"
.
.
#OneDayOnePost
#after 11 year and still great :D
READ MORE - Kunamai Kalian Kawan

Read Comments

Tipe Blog Walker


bloganool.com

Siapa yang tidak senang saat tulisan yang dibuat mendapat banyak pengunjung dan komentar? Seneng dong yah pastinya. Dalam dunia per-blog-an ada istilah blog walking.
.
Apa itu?
Ya walking. Jalan-jalan. Kita mengunjungi blog orang lain, membaca, meninggalkan komentar. Dengan begitu ada feedback link milik kita di blog yang kita kunjungi, dengan harapan sang pemilik blog juga akan kembali jalan-jalan ke blog milik kita.
.
Seru, kan?
Selain mengundang pengunjung ke blog kita, blog walking juga bisa membuat kita menambah wawasan, memancing inspirasi menulis, memperkece tampilan blog, juga menambah teman. Biasanya saya sering blog walking (BW) di akhir pekan. Atau paling tidak, setiap hari, minimal 3 blog dikunjungi (aturan ODOP).
.
Tapi, pengunjung blog ini ada lho jenis-jenisnya. Gak shohih sih ya, hanya berdasarkan pengalaman pribadi, ini tipe-tipenya.
.
1. Tipe paling oke
Si pengunjung membaca dengan baik, dan memberi komentar dengan baik. Nah, ini yang paling asyik. Tulisan kita dibaca dengan seksama dari awal sampai akhir, diapresiasi, dikomentari apa kelebihan dan kekurangannya. Pujiannya bikin kita tambah semangat nulis, kritikannya bisa membangun bangsa, eh, tulisan kita.
.
2. Tipe silent reader
Yang ini macam secret admirer. Kerjaanya jadi pengunjung setia, tapi enggan meninggalkan jejak. Dibaca, dihayati, dinikmati, abis itu pergi! Salahkah? Oh, tentu tidak. Semua orang berhak membaca tanpa perlu meninggalkan jejak. Nah tipe kebanyakan pengunjung blog, biasanya yang seperti ini. Pernah ada satu tulisan saya yang pembacanya lebih dari dua ratus, tapi komennya cuma ada dua. Mungkin pengunjungya adalah orang-orang yang tidak punya blog, which is rada susah buat berkomentar karena harus login email dan lain sebagainya.
.
3. Tipe "I was here"
Hahaha, rada ganggu juga nih yang kayak gini yah. Doi komen sih, tapi kok, komennya gak nyambung ya? Atau cuma sekedar, "bagus", " keren", tanpa ada tanda-tanda dia baca dengan benar. Yah kalau bisa, jangan jadi yang tipe begini dong yah.. Cuma baca judul, scanning, lalu komentar seadanya. Ninggalin jejak cuma buat dikomen balik. Sah-sah saja sebetulnya, tapi kurang etis. Mari hargai usaha sang penulis dengan jadi pembaca yang baik.
.
4. Tipe plagiator
Tidak! Ini yang paling nyebelin. Berkunjung ke rumah kita, nyerap infonya, terus ditulis lagi tanpa izin, tanpa mencantumkan sumber. Dicatut gitu aja, seolah-olah tulisan itu milik dia. Jangan sampai, karena kejahatan literasi adalah plagiasi. Tolong hargai kami yang menulis terseok-seok untuk menghasilkan paragraf demi paragraf :)
.
Nah, itu saja. Tapi yang manapun (asal bukan nomer empat ya) tetap baik kok. Jadi, yang mana tipemu? Semoga tetap senang Blog Walking ya! Nice day!
.
.
#OneDayOnePost
READ MORE - Tipe Blog Walker

Read Comments

Such A Little Story



PR ODOP minggu ini, membuat narasi tentang diri sendiri. Berasa jadi orang penting aja kali ya bikin biografi sendiri. Baiklah, jadi kita mulai dari mana? Mungkin bisa dihitung mundur, tepat hari ini, 26 tahun yang lalu.
.
Ya, hari ini. Tercetak jelas di KTP, saya lahir tanggal 15 November. Dari pasangan yang belum pernah punya anak sebelumnya. Otomatis hal ini melabeli saya jadi anak sulung. Terlahir dengan nama Siti Maemunah, karena zaman dulu, ketika memberi nama katanya tidak boleh diberi nama sembarangan. Jadilah nama itu diberikan oleh seorang ustadz, guru mengaji bapak saya.
.
Saya lahir di Lembang, besar di Bandung. Setelah menikah kembali ke Lembang. Berstatus guru di sebuah SDIT, dan mempunyai dua orang anak. Sagara Sunda Alfadli (2y) dan Agra Mahya Alfadli (2m). Keduanya laki-laki, insyaallah jadi anak sholih.
.
Sebetulnya saya tergolong ke dalam kelompok kudet, kuper juga. Dari SD sampai SMA, saya sekolah di dekat rumah. Ah, ya. Kampus juga sama. Semua tempat saya mengenyam pendidikan, jaraknya hanya lima belas menit dari rumah. Belum cukup, saya juga tipe orang yang tidak suka kelayapan. Sekolah-pulang, kuliah-pulang. Yah, otomatis kuper tingkat tinggi mengikuti saya kemanapun saya pergi.
.
Masa SMA, saya baik-baik saja. Dalam artian tidak mengalami manuver berbahaya saat saya sedang dijejali puncak-puncaknya hormon pubertas. Saya pembelajar yang baik, sempat dipercaya jadi utusan sekolah untuk beberapa olimpiade sains. Saya tidak suka kegiatan organisasi, apalagi kongkow-kongkow di warjam, warma, dan entah warung-warung apalagi yang masih eksis sampai detik ini.
.
Suami saya malah sempat bilang, "umi pas SMA pasti tipe ngebosenin yang keluar kelas cuman ke kantin doang. Bawa-bawa buku rumus segede bantal, dan penggaris lengkap sama busur derajatnya." Saya hanya tertawa tanpa bisa menyangkal. Tapi ya enggak gitu-gitu amat kok, saya juga masih punya teman saat SMA dan bahkan masih awet sampai sekarang.
.
Saya yang menghabiskan waktu dua pertiga hidup hanya di rumah ini, akhirnya bisa berkeliaran jauh juga. Rekor melancong saya terpecahkan saat menikahi seorang pecinta alam yang hobinya blusukan ke hutan. Dengannya, finally, saya bisa mengenal banyak tempat yang belum pernah saya kunjungi. Termasuk berhasil mencium aroma tanah Sumatra. Sounds great for a "kurungbatokeun" girl like me, eh?
.
Saya juga orang yang tidak mudah beradaptasi, grogian, sensitif, melankolis-plegmatis. Tipe-tipe yang bakal nangis kalau liat kucing mati, baca novel sedih, atau sekedar nonton film kuch-kuch hota hai.
.
Saya suka sekali membaca. Dan sekarang, menulis. Karena katanya dengan membaca, kita akan mengenal dunia. Tapi dengan menulis, dunia yang mengenal kita. Ahem! Gak muluk-muluk amat sih sampai all around the world must know who am I, cuma sampai sebatas bisa berbagi saja, cukup.
.
Prestasi saya dalam menulis? Nol besar. Karena kebanyakan malas dan ogah belajar lebih. Ada sih  tiga apa empat buku antologi yang sudah terbit, tapi kalau masih indie mah, gak bisa dibanggakan. Cerpen juga pernah beberapa kali dimuat media. Itupun yang honornya ecek-ecek, yang cuma cukup buat beli surabi. Sekarang tulisan saya hanya nyangkut di blog, itupun kebanyakan gak jelasnya.
.
Kesibukan saya sekarang, membesarkan dua permata hati, sambil beradaptasi karena dua minggu lagi masa cuti saya habis. Anyway, saya tidak punya sesuatu yang spesial. Dibawah rata-rata banget. Tapi saya yakin, semua orang berhak untuk bahagia, itu saja.
.
.
#OneDayOnePost
#TantanganDeskripsiDiri
READ MORE - Such A Little Story

Read Comments

(Semoga) Masih

Images by google

"Umi pengen jadi hafidzah." Lamun saya suatu hari, nyeletuk di depan suami.
"Ya bagus atuh, mi."
Lalu sebagai usaha dari pengejawantahan mimpi itu, saya ikut ODOL-One Day One Line.
.
Teknisnya, kita dikasih pasangan dan saling menyetor hafalan setiap hari Senin sampai Sabtu. Dan minggu murajaah hasil hafalan seminggu itu.
.
Semangat? Sangat! Hafalan saya nambah banyak karena termotivasi dengan lingkungan. (Awalnya doang) hahaha. Begitulah. Cuma sampai di niat dan beberapa minggu pertama ikut ODOL. Abis itu, yah futur dengan sukses. Cuma berapa minggu doang, abis itu keluar juga, karena malu ga setor2 :(
.
Hmmh... Sebetulnya mimpi itu masih ada. Suka malu kalau ada murid yang setor hafalan sementara saya masih harus pegang Qur'an karena belum hafal atau karena sudah hafal tapi tidak dijaga.
.
Lebih malu lagi karena bermimpi punya anak hafidz tapi emaknya masih memprioritaskan baca novel, nonton film, atau sekedar leyeh-leyeh main game ular-ularan di ponsel. Hadeuh.
.
"Berapa lama sampai bisa jadi hafidz teh?" Tanya saya pada teman suatu hari. Beliau sudah lulus menghafal 30 juz.
.
"19 bulan teh."
.
"Ih keren banget. Gimana biar bisa secepat itu?"
.
"Emang harus fokus teh. Dulu di kosan, sendiri. Ga ada kerjaan, ngapal aja terus."
.
Hmmh sound easy, isnt it? Saya pernah punya target setidaknya umur 30 lah sudah jadi hafidz. Atau setidaknya, sampai kapanpun tetap berusaha menjadi hafidz. Tapi helllooow, mana usahanya nih? -,-
.
Kurang berusaha. Kurang kemauan. Its not about intelegence. Its about strong will.
.
Ya Allah... Tanamkan lah keinginan kuat itu dalam hati saya... Agar saya bukan cuma jadi emak yang koar-koar nyuruh ngafal qur'an ke anak sementara emaknya cuma hafal surat Al-ikhlas.
.
Tulis impian! Dengan begitu semoga tetap terngiang.
Mimpi saja yang tinggi! Karena mimpi yang tinggi selalu gratis, tidak perlu bayar pajak mimpi pertahun, atau perpanjangan masa aktif perlima tahun.
.
Demikian.
.
#OneDayOnePost
READ MORE - (Semoga) Masih

Read Comments
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men